Suasana Dusun Kebonkliwon, Kebonrejo, Salaman tampak sibuk dan semarak menjelang penyelenggaraan Festival Kebonkliwon IV. Perhelatan tersebut akan digelar pada 5–10 November 2025. Kegiatan yang diselenggarakan dua tahun sekali ini menjadi ajang untuk memperkuat identitas dusun serta wujud syukur atas rezeki yang diperoleh.
Sejak pagi hingga malam, warga terlihat bergotong royong menghias panggung utama dan jalan dusun dengan bahan jerami. Panggung besar berukuran 12×10 meter dengan dekorasi khas pertanian berdiri di tengah dusun. Kawula muda dari karang taruna bersama para tetua kampung bahu-membahu menyempurnakan detail akhir.
Panitia festival, Zainal Faizin mengutarakan, warga sudah mempersiapkan kegiatan ini sejak dua bulan ini. Setiap minggunya, masing-masing RT akan bergantian menyiapkan segala sesuatunya. "Dari yang muda sampai yang sepuh, semua ikut terlibat. Karena ini bukan hanya hiburan, tapi juga bentuk syukur dan penghormatan terhadap tradisi kampung," paparnya di lokasi, Selasa (4/11).
Dia menyebut, Festival Kebonkliwon kali pertama digelar pada 2017 sebagai pengembangan dari tradisi khataman anak mengaji di masjid setempat yang rutin diadakan dua tahun sekali. Sejak itu, warga bersama karang taruna berinisiatif menjadikannya ajang budaya yang memperkuat identitas kampung sebagai sentra pembibitan tanaman buah.
Terlebih, kata dia, sekitar 80 persen warga Dusun Kebonkliwon merupakan petani bibit. Mulai dari bibit durian, alpukat, kelengkeng, hingga tanaman langka seperti mamey sapote dan miracle fruit. "Kami ingin membranding kampung ini sebagai kampung bibit," lontarnya.
Tahun ini menjadi gelaran keempat dengan tema 'Ngunduh Wohing Pakarti', yang berarti memetik buah dari perbuatan. "Maknanya, setiap tindakan kebaikan akan membuahkan hasil yang baik pula. Begitu juga sebaliknya. Pesan moral ini kami sampaikan lewat simbol pertanian," sambungnya.
Zainal mengatakan, festival ini tidak hanya menjadi ajang syukur bagi warga, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni dan ekonomi lokal. Tahun ini, sekitar 40 pelaku UMKM dari berbagai daerah akan meramaikan bazar, sementara delapan kelompok kesenian tradisional akan tampil di panggung utama.
Dekorasi panggung terinspirasi dari Festival Lima Gunung, dengan logo bergambar gunungan wayang diapit oleh Dewi Sri dan Raden Sadana, yang menjadi simbol kehidupan, kemakmuran, dan kesuburan. Gunungan wayang itu, kata dia, menggambarkan perjalanan hidup manusia agar selalu eling marang sangkan paraning dumadi. "Sementara Dewi Sri dan Raden Sadana melambangkan hasil bumi dan kesejahteraan," tutur Zainal.
Bagi warga, festival ini bukan sekadar perayaan panen atau sedekah bumi, tetapi juga wujud syukur dan semangat melestarikan tradisi khataman anak mengaji.
"Kami ingin anak-anak selalu semangat belajar Alquran. Jadi setiap khataman, kami rayakan dengan cara yang gembira dan bermanfaat untuk semua," ujar Zainal.
Sementara itu, Kepala Desa Kebonrejo Ismun mengutarakan, seluruh kegiatan festival dibiayai murni dari swadaya warga tanpa dana desa. Selain menjadi momentum budaya, festival ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi Dusun Kebonkliwon sebagai kampung bibit berskala nasional. "Dari awal sampai akhir, tidak ada dana dari pemerintah desa. Semua warga sukarela dengan niat ibadah dan gotong royong," katanya. (pra)
Editor : Heru Pratomo