Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seminar Kajian Seni dan Masyarakat Kupas tentang Batik, Batik Bukan Sekadar Kain: Tapi Cerita Panjang tentang Kesabaran dan Identitas Bangsa

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 1 November 2025 | 03:07 WIB
Seminar “Kajian Seni dan Masyarakat” yang digelar Program Doktor Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Ruang Seminar Driyakarya, Jumat (31/10/2025).
Seminar “Kajian Seni dan Masyarakat” yang digelar Program Doktor Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Ruang Seminar Driyakarya, Jumat (31/10/2025).
 
JOGJA - Batik bagi sebagian orang dinilai sebagai suatu warisan budaya dan produk seni bernilai tinggi yang mempunyai sejarah panjang.
 
Nilai-nilai yang termuat dalam produk budaya tersebut menjadi penghubung cerita antargenerasi.

Topik tersebut dibahas secara mendetail dalam forum Seminar “Kajian Seni dan Masyarakat” yang digelar Program Doktor Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Ruang Seminar Driyakarya, Jumat (31/10/2025).
 
Baca Juga: Partai Politik Tidak Selalu Menyeramkan, DPW Nasdem DIY Gelar Acara Sosial dan Lomba Peringati ke-14 Tahun..
 
Salah seorang anak muda penggiat budaya yang juga menjadi narasumber dalam seminar tersebut, Marsha Widodo menilai batik bukan sekadar kain, melainkan cerita panjang tentang kesabaran, ketelitian, dan nilai kehidupan.

"Di sekolah, dalam setahun, saya hanya memakai batik empat kali, saat Hari Kemerdekaan, Hari Sumpah Pemuda, Hari Batik Nasional, dan Hari Internasional di sekolah. Di luar itu, batik hanya tersimpan di lemari, seperti pakaian untuk acara khusus,” ujar siswi Jakarta Intercultural School (JIS) ini.

Marsha, sapaan akrabnya, bercerita awal mula dirinya tertarik terhadap batik. Suatu hari saat di rumah, dirinya mendengar perbincangan antara ibu dengan neneknya.
 
Baca Juga: Telaga yang Tak Sekadar Air: Pergulatan Warga Trowono Menjaga Napas Alam
 
Saat itu ibunya ingin memakai pakaian batik, namun dilarang oleh neneknya karena beralasan bahwa batik merupakan baju yang relatif mahal.

“Saya bertanya-tanya, kenapa bisa mahal? Apa yang membuat satu kain batik berbeda dari yang lain? Dari situ saya mulai mencari tahu, dan ternyata keindahan batik bukan hanya pada hasil akhirnya, tapi juga pada proses panjang dan rumit di baliknya,” tutur Marsha.

Setelah mencoba mendalami batik, dirinya menyimpulkan bahwa batik bukan hanya sekadar produk. Melainkan warisan pengetahuan yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
 
Pengakuan tersebut menekankan pentingnya menjaga teknik dan nilai-nilai di balik pembuatannya.
 
Baca Juga: Usai Jumatan Diterjang Angin Kencang, Atap Asrama dan Ruang Belajar Santri di Magelang Terdampak

“Mulai dari pewarnaan, perebusan, penggunaan canting, hingga penyusunan motif—semuanya adalah perjalanan panjang yang mengajarkan kesabaran, fokus, ketekunan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai ini penting untuk dipahami oleh generasi saya,” bebernya.

Berkaca pada warisan tekstil dunia di berbagai negara, menurutnya semua produk budaya tersebut bernilai tinggi karena pengetahuan dan sejarah pada proses pembuatannya, bukan pada wujudnya.
 
Dirinya dan generasi muda lainnya dirasa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan batik.

“Kita adalah jembatan antara generasi lama dan generasi baru. Di tangan kita, batik bisa terus hidup atau justru berhenti menjadi sekadar pakaian upacara,” katanya.
 
Baca Juga: Kukusan Kekinian, Potensi Cuan dari Jual Makanan Sehat Zaman Dulu yang Sudah Jarang Ditemukan

Tantangan yang dihadapi saat ini, kebanyakan generasi muda malas untuk belajar tentang makna dan sejarah batik, bukan kemampuan teknis pembuatan.
 
Generasi muda dinilai cenderung larut dalam modernitas yang semakin bising di era digital dan persebaran infromasi yang semakin cepat.

Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda bukan pada kemampuan teknis, tetapi pada kesediaan untuk mendengar dan memahami makna.
 
“Kita hidup di era digital yang serba cepat. Kadang kita larut dalam teknologi dan lupa menoleh ke masa lalu. Padahal di cerita masa lalu itu identitas kita hidup,” ujarnya.
 
Baca Juga: Hasil PSIM vs Persik, Diwarnai Dua Kartu Merah, Laskar Mataram Lanjutkan Tren Kemenangan di Kandang

Ia kemudain menuangkan gagasannya terkait batik dalam majalah sekolah international tempat ia mengenyam pendidikan.
 
Secara umum, tulisannya membicarakan tentang akulturasi berbagai macam budaya lintas negara dalam batik.

“Saya menulis tentang batik dengan pengaruh Arab, Tionghoa, dan Belanda. Mereka jadi tahu bahwa batik adalah hasil pertemuan lintas budaya yang panjang,” ungkapnya.
 
Baca Juga: Sama-Sama Ingin Menang, PSS Sleman dan Persipura Jayapura Siap Tampil All-Out di Maguwoharjo

Narasumber selanjutnya, Dr Gregorius Budi Subanar, SJ memaparkan implementasi batik era saat ini dalam acara-acara besar di Yogyakarta.
 
Masyarakat sering mengenakan pakaian batik mulai dari panggung kesenian, acara sehari-hari dan acara-acara formal.
 
Romo Banar, sapaan akrabnya, menilai proses pembuatan batik seringkali luput dari perhatian publik.
 
Padahal, ada kerja keras dan dedikasi tinggi dari para pengrajinnya. Ia ikut bangga terhadap kelompok-kelompok seni anak muda yang terus melestarikan batik di era sekarang.
 
Baca Juga: Grand Livina Terbakar di Tanjakan Tompak Girimulyo Kulon Progo, Tak Kuat Menanjak Diduga Korsleting Listrik

“Biasanya kita hanya memperhatikan yang tampil di atas panggung, padahal yang bekerja di balik panggung juga penting. Di situ nilai budaya itu hidup,” lanjutnya.

Seiring perkembangan zaman, budaya penggunaan batik sudah banyak mengalami perubahan.
 
Dahulu, batik dan kebaya menjadi busana sehari-hari perempuan. Kini, keduanya lebih sering digunakan pada upacara, baik laki-laki maupun perempuan.
 
Menurutnya, perubahan itu wajar namun harus menjaga nilai-nilai di dalamnya.
 
Baca Juga: Yayasan Tarakanita Wilayah Yogyakarta Gelar Aksi BersihSungai Winongo dan Lingkungan dalam Rangka Carolus Day

“Beberapa hari yang lalu ada Kirab Trunojoyo. Semua penarinya laki-laki, dan mereka mengenakan kain batik. Ini contoh bahwa batik juga bagian dari ekspresi kegagahan dan cinta,” ujarnya.

Narasumber seminar selanjutnya, Afif Syakur menjelaskan istilah batik berasal dari kata gabungan dari ba (kain) dan tik (titik atau coretan kecil).
 
Batik bukan hanya sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga merekam perjalanan hidup manusia Jawa, dari lahir hingga meninggal.

“Ada batik untuk kelahiran, khitanan, pernikahan, dan kematian. Semua motif punya filosofi sendiri,” ucap desainer sekaligus pendiri Apip's Batik Yogyakarta itu. (oso)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#produk ekonomi #seminar #Warisan Budaya #Identitas Bangsa #Batik #UNESCO