Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keraton Yogyakarta Gelar Pameran Pangastho Aji, Laku Sri Sultan HB VIII

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 27 September 2025 | 04:03 WIB

 

Keterangan Sri Sultan HB X dan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara saat membuka pameran
Keterangan Sri Sultan HB X dan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara saat membuka pameran
 RADAR JOGJA - Keraton Yogyakarta kembali mengundang masyarakat untukmenjelajahi sejarah dan inovasi melalui pameran akhir tahun.

Dalam kesempatan kali ini pameran mengangkat tajuk Pangastho Aji, Laku
Sultan Kedelapan.

Pameran ini berfokus pada Sri Sultan Hamengku Buwono VIII mulai dari perjalanannya menuju takhta hingga inisiasinya dalam industrialisasi dan demokratisasi budaya di Yogyakarta.

Pameran utama akan digelar di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta. Pameran ini menyoroti Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang lahir dengan nama kecil GRM Sujadi pada 3 Maret 1880 silam.

Saat itu HB VIII naik takhta pada 8 Februari 1921 dan dikenal sebagai raja yang sangat
berorientasi pada pemajuan dan demokratisasi kebudayaan.

Pameran Pangastho Aji ini dibuka secara resmi pada 26 September 2025 malam dan dapat mulai dikunjungi oleh masyarakat umum pada 27 September 2025. Pameran juga akan berlangsung hingga 24 Januari 2026 nanti.

Selain pameran utama, akan ada juga rangkaian acara pendukung yang menarik. Rangkaian acara itu meliputi Tur Kuratorial, Public Lecturer, Jelajah Pesanggrahan, dan Lokakarya Budaya.

Namun, khusus untuk pembukaan, Keraton akan menyajikan pertunjukan seni selama tiga hari berturut-turut di Kagungan Dalem Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pertunjukan tersebut antara lain, pada tanggal 26 September 2025 mementaskan pertunjukan Wayang Wong Parta Krama.

Lalu pada tanggal 27 September 2025 mementaskan pertunjukan Wayang Wong Srikandhi Maguru Manah, dan pada tanggal 28 September 2025 akan mementaskan pertunjukan Wayang Wong Sembadra Larung.

Dalam sambutannya saat membuka pameran, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan, Keraton Yogyakarta sejak awal didirikan oleh Pangeran Mangkubumi, bukanlah semata bangunan fisik yang menjulang. Melainkan sebuah 'blueprint' peradaban.

Keraton adalah ekosistem nilai, tempat budaya, spiritualitas, dan peradaban terjalin dalam satu narasi hidup.

Sabda yang diwariskan, bukan pula sekadar kata, melainkan 'core value' yang menuntun peradaban Jawa untuk tetap relevan, berkelanjutan, dan berorientasi pada masa depan.

"Malam ini kami membuka pameran Pangastho Aji, sebuah laku ziarah budaya yang menyingkap laku Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Beliau, Sang Raja Kedelapan, mengajarkan kepada kita bahwa kekuasaan tanpa kebudayaan hanyalah kekosongan, dan kebudayaan tanpa keberpihakan pada rakyat hanyalah hiasan belaka," ucapnya.

Menurut HB X, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII merupakan sosok yang dikenal sebagai pemimpin yang menumbuhkan 'demokrasi seni', membuka pintu keraton, agar denyut tari, gamelan, dan wayang wong dapat dirasakan kawula, bahkan para pelajar asing yang datang menimba ilmu.

Inilah teladan kepemimpinan yang sejati yang tidak meninggikan sekat, melainkan menyalakan pelita bagi semua.

Lebih dari itu, bagi HB X, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga menegaskan, bahwa modernisasi tidak harus merampas tradisi. Beliau (HB VIII) mampu menyongsong pendidikan Barat, mengutus putra-putrinya belajar ke Belanda, sekaligus tetap memelihara kearifan Jawa.

Selain itu, HB VIII juga berhasil merintis industrialisasi awal Yogyakarta, tetapi tetap memastikan kebudayaan menjadi dasar pijakan. Inilah keluhuran seorang pemimpin, yang mampu menautkan 'sangkan paraning dumadi' atau akar dan tujuan hidup, dengan denyut zaman yang terus berubah.

"Dan di tengah perjalanan bangsa Indonesia kini, sabda leluhur itu kembali terasa relevan. Pembangunan yang kita kejar, akan kehilangan jiwa jika abai terhadap kerakyatan dan keadilan," cetus HB X.

Maka dari itu, HB X meminta kepada seluruh masyarakat supaya merenungi teladan dari Sri Sultan HB VIII, sebagai inspirasi peradaban Indonesia masa kini, demokrasi yang bekerakyatan, pembangunan yang inklusif, serta resilien.

Dengan demikian, bangsa ini akan mencapai cita-cita 'gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja' yang dalam bahasa global dapat kita sebut sebagai 'sustainable and prosperous society'.

"Hal ini senada dengan falsafah 'Hamemayu Hayuning Bawana', sebuah kewaiban moral, untuk memelihara keindahan dan keselamatan dunia, serta menjaga keseimbangan jagad lahir dan batin," ujarnya.

Sementara, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Bendara menjelaskan pameran ini tidak hanya sekadar menampilkan benda-benda bersejarah, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai yang diusung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII seperti demokratisasi budaya yang masih relevan hingga saat ini.

Maka dari itu, melalui pameran ini, para pengujung juga dapat melihat bahwa kebudayaan adalah fondasi yang kokoh bagi kemajuan, dan setiap individu memiliki peran penting dalam melestarikannya.

"Pangastho Aji menghadirkan tafsir perjalanan Sultan melalui pembacaan fenomena seni-sosial pada awal abad ke-20, sekaligus memanjakan setiap pengunjung dalam sudut-sudut artistik ruang pamer. Pada akhirnya, Keraton Yogyakarta terus mengundang seluruh masyarakat untuk hadir langsung, menjadi bagian dari proses pelestarian sejarah dan budaya melalui setiap kegiatan yang diselenggarakan," ungkapnya. (ayu).

Editor : Bahana.
#Keraton Yogyakarta #Sri Sultan Hamengku Buwono X