BANTUL - Pameran seni bertajuk Antara digelar oleh SMKN 3 Kasihan. Mengangkat metafora kupu-kupu sebagai gambaran perjalanan akademik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 3 Kasihan Suranto menjelaskan, konsep karya yang ditampilkan berawal dari kepompong hingga kupu-kupu. Simbol siswa yang menempuh proses pendidikan seni rupa maupun kriya.
Baca Juga: Petani Sleman Harap Pemeliharaan Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck Dilakukan pada 2029
“Ulat adalah tahapan proses dalam pendidikan yang terus berjalan dan berjenjang hingga menemukan titik jati diri dalam berseni," bebernya di galeri SMKN 3 Kasihan Senin (22/9).
Dari situ, lanjutnya, kupu-kupu lahir. Mengarungi kehidupan berkesenian yang lebih kompleks. Baik di perguruan tinggi maupun dunia kerja.
Karya kolaborasi yang ditampilkan merupakan hasil pembelajaran dengan konsep matang. Melibatkan siswa, guru, alumni, hingga mahasiswa praktik pendidikan dari UNY.
Ketua pameran Alvin Bryan menyebut, total ada 164 karya yang dipamerkan. “Lukisan, kriya batik, patung, kayu, hingga tekstil seperti batik tulis, cap, dan ecoprint,” bebernya.
Alvin menekankan pameran ini menjadi ruang kolaborasi penting. Tidak hanya siswa, tetapi juga mahasiswa praktik kependidikan (PK) yang ikut berproses.
“Mahasiswa PK di sini belajar langsung bagaimana mendampingi siswa. Mereka bisa mengasah amanah, relasi, dan bakat di luar akademik,” lanjutnya.
Dia juga mengibaratkan pameran ini sebagai kepakan sayap kupu-kupu. Menyatukan kembali potensi yang sempat tercerai-berai. “Dulu siswa SMKN 3 Kasihan setelah lulus ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, ada yang bekerja. Melalui pameran ini kami satukan dalam satu bingkai,” kata Alvin.
Karya ikonik yang ditampilkan salah satunya berasal dari alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta yang juga alumni SMKN 3 Kasihan. Karya tersebut mengusung tema kupu-kupu yang bisa bergerak. Menggambarkan perjalanan hidup yang disatukan dalam jenjang waktu.
Selain itu, ada karya berjudul Pixel. Berupa lukisan dengan makna mimpi kehidupan. Menggambarkan bayi yang digendong, sebagai simbol bagaimana anak masih memandang buram kehidupan sejak dalam kandungan. "Jadi kalau diliat dari jauh lukisannya kaya ada dua orang, tapi kalau dilihat dari dekat hanya terlihat puzzle saja," jelasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita