Campursari dari Gunungkidul untuk Nusantara, Warisan Manthous Dikenalkan ke Anak Muda
Yusuf Bastiar• Sabtu, 13 September 2025 | 03:55 WIB
elompok Seni Campursari Kawuriyan asal Wonogiri sedang melakukan pementasan di Festival Campursari 2025 Gunungkidul.
GUNUNGKIDUL - Nama besar Maestro Manthous kembali menggaung di panggung Festival Nasional Campursari 2025 yang digelar di Auditorium Taman Budaya Gunungkidul. Kehadirannya sebagai pencetus sekaligus pencipta lagu-lagu campursari diakui menjadi tonggak penting perjalanan musik akulturasi ini hingga dikenal luas di Indonesia.
Acara yang berlangsung hingga 13 September ini menghadirkan 30 kelompok seni dari berbagai daerah. Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul Agus Mantara menyebut, festival ini bukan sekadar pergelaran musik, melainkan upaya melestarikan budaya yang lahir dari tanah Jawa dan dibesarkan oleh Maestro Manthous. Menurutnya, ajang ini menjadi ruang nostalgia sekaligus sarana mengenalkan Campursari kepada generasi muda.
“Kita pun memiliki Maestro Manthous. Maka Festival Nasional Campursari ini digelar karena hampir semua daerah mengenal musik Campursari,” ujarnya saat ditemui di Taman Budaya Gunungkidul pada Jumat, (12/9/2025).
Menurutnya, kesuksesan pergelaran serupa di berbagai daerah menjadi inspirasi untuk menghadirkannya di Gunungkidul. Sejarah mencatat, kata Agus, campursari pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953 oleh R.M Samsi lewat kelompok musik yang rutin mengisi siaran di RRI Semarang.
Namun, Campursari baru benar-benar dikenal luas ketika Manthous, seniman asal Gunungkidul, memperkenalkannya melalui karya dan panggung hiburan sejak dekade 1980-an. Dari situlah, nama Gunungkidul semakin identik dengan genre musik akulturatif tersebut.
Campursari sendiri lahir dari perpaduan dua dunia musik antara gamelan Jawa yang berlaraskan pentatonis dengan instrumen Barat yang menggunakan nada diatonis. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul perpaduan itulah yang menghasilkan musik harmoni yang unik, sehingga disebut sebagai campuran inti sari atau campursari. Bagi masyarakat Jawa, Agus menuturkan Campursari menjadi simbol pertemuan tradisi dan modernitas, sekaligus identitas budaya yang menyatukan berbagai lapisan sosial.
“Festival ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Selama tiga hari, masyarakat dapat menikmati suguhan khas hasil akulturasi gamelan Jawa dan musik Barat. Festival ini menjadi pengingat bahwa Campursari bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga warisan budaya yang layak dibawa ke masa depan,” tegas Agus.
Terpisah, seniman Campursari dari kelompok Madu Laras asal Sleman Surono (77) menegaskan, kiprah Manthous tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan campursari. Menurutnya, tanpa peran maestro asal Gunungkidul tersebut, campursari mungkin tidak akan mencuat di pentas nasional.
Semangat itu, kata Surono, terlihat jelas dalam festival kali ini. Dari 30 kelompok campursari yang tampil, keberagaman peserta menunjukkan bagaimana genre musik ini mampu menjembatani lintas generasi. Tidak hanya seniman senior, tetapi juga anak-anak muda turut tampil membawa campursari dalam gaya mereka sendiri.
“Dia maestronya campursari. Dari ide dan pikirannya, campursari kemudian dikenal dan diterima oleh banyak kalangan. Pantas sekali kita kenang dan apresiasi,” ujarnya saat ditemui di lantai dua Taman Budaya Gunungkidul.
Gedung pertunjukan sejak awal acara tak pernah sepi penonton. Antusiasme ini menjadi bukti bahwa campursari masih diterima masyarakat, bahkan terus dibutuhkan sebagai bagian dari kebudayaan.
“Yang hadir bukan hanya orang tua, tetapi juga generasi muda. Ini menandakan campursari sudah menjadi kebudayaan semua penggemar, dari berbagai usia,” kata Surono.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang membuka langsung festival, menegaskan pentingnya menjadikan Campursari sebagai budaya khas Gunungkidul yang diakui secara nasional bahkan internasional. Ia juga menargetkan agar genre musik ini dipatenkan melalui hak kekayaan intelektual.
Endah berharap melalui festival ini Campursari bisa dinasionalkan menjadi budaya murni dari Gunungkidul dan dikenal lebih luas. Ia menambahkan, Campursari juga berpotensi menjadi media diplomasi budaya.
“Melalui Campursari ini kita bisa menjavanisasi di skala internasional. Ketika menerima kunjungan diaspora, mereka sudah mengenal Campursari. Maka mestinya kita bangga, tidak hanya mengenal musik Barat, tetapi juga menjaga budaya kita sendiri,” katanya. (bas)