GUNUNGKIDUL - Warga Dusun Siyono B, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, tengah bersiap menyelenggarakan Festival Bedhidhhing pada 12–13 September mendatang.
Festival ini digagas sebagai ruang perayaan budaya sekaligus ajang kebersamaan warga, dengan mengusung metode sambatan atau gotong royong sebagai spirit utama.
“Konsep, gagasan, hingga konsumsi, semua dilakukan secara swasembada. Artinya, murni dari kita untuk kita,” ujar salah satu penggerak festival dari Sanggar Oyod Ringin Jevi Adhi Nugraha saat dikonfirmasi pada Minggu, (7/9/2025).
Baca Juga: Sleman Kuasai Cabor Catur di Porda DIY 2025 dengan Menyabet Tiga Medali Emas
Semangat sambatan terlihat jelas sejak tahap persiapan. Menurut Jevi warga dari berbagai usia, mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua turut ambil bagian. Ada yang membersihkan pawon (dapur tradisional) untuk memasak kebutuhan konsumsi, ada pula yang menyiapkan bahan pangan, peralatan, hingga karya instalasi seni berbahan dasar gaplek.
“Gaplek ini kemarin harganya sempat turun. Jadi kami manfaatkan bahan dari warga untuk karya instalasi. Nilainya bukan sekadar karya seni, tapi simbol saling sokong antarwarga,” ungkap pemuda Siyono B Ida Mandalawangi dari Laboratorium Sedusun.
Dalam festival ini, kata Ida, kebutuhan konsumsi menjadi salah satu titik gotong royong paling nyata. Daftar kebutuhan pangan seperti beras, sayur, ayam, tempe, kopi, gula, hingga bumbu dapur, disediakan secara patungan dan sumbangan warga maupun kawan-kawan komunitas.
Semua bahan tersebut nantinya akan diolah oleh warga menjadi hidangan untuk panitia, penampil, dan para tamu. “Kita ingin semua yang hadir merasakan bahwa festival ini memang benar-benar festival warga, dari warga, oleh warga, dan untuk warga,” tambah Jevi.
Festival Bedhidhhing juga menjadi wadah belajar kolektif, di mana seni, budaya, dan solidaritas warga dipertemukan. Berbagai sanggar, komunitas, dan individu bergabung, termasuk Sanggar Lumbung Kawruh, Sanggar Ori, hingga Laboratorium Sedusun.
Ida berharap Festival Bedhidhhing menjadi momentum kebersamaan warga Dusun Siyono B, sekaligus pengingat bahwa gotong royong masih menjadi napas utama kehidupan warga desa.
“Festival ini bukan hanya perayaan, tapi juga ruang bagi warga untuk saling sandar-menyandar, berbaur, dan bersinergi. Nilainya lebih dari sekadar acara, ini adalah cermin kekuatan sambatan yang diwariskan sejak lama,” pungkas Ida. (bas)
Editor : Heru Pratomo