GUNUNGKIDUL - Di sebuah dusun di ujung selatan Gunungkidul, tepatnya di Dusun Siyono B, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, warga tengah bersiap merayakan satu peristiwa penting melalui Festival Bèdhidhhing 2025. Festival akan digelar pada 12-13 September 2025.
Selama bertahun-tahun, desa kerap dipersepsikan sebagai ruang serba kekurangan, miskin, tertinggal, minim pembangunan, dan kurang pendidikan. Narasi itu terus diulang hingga seolah menjadi kebenaran. Namun, jika dilihat lebih jeli, hampir semua bahan pangan, energi, hingga bahan bangunan justru bersumber dari desa.
“Padahal jika dilihat kembali, hampir seluruh bahan pangan, bangunan, dan energi berasal dari dusun,” ujar warga Dusun Siyono B Ida Mandalawangi sebagai panitia festival, Jumat (5/9).
Ini bukan sekadar perayaan seni dan budaya. Lebih dari itu, ia menjadi ruang kolektif untuk menghadirkan kembali keseharian warga desa, sekaligus meneguhkan desa sebagai sumber pangan, energi, dan pengetahuan lokal. Tajuk yang diusung tahun ini “Padatan, Padinan”, memiliki makna mendalam. Padatan berarti kebiasaan, sementara Padinan berarti keseharian.
Festival Bèdhidhhing, kata Ida, berupaya membalik narasi tentang desa. Alih-alih menyoroti kekurangan, festival ini menampilkan kekuatan warga desa, menurutnya cara mereka bertahan di tanah karst yang kering, kreativitas dalam mengolah pangan, hingga kearifan dalam menjaga ruang hidup.
Bagi warga dusun Siyono B, festival ini tak hanya sekadar panggung. Lebih jauh, ia menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas dan warga dari lintas generasi.
“Festival Bèdhidhhing ini kami usung lokalitas karena efeknya terasa sekali. Dulu suara warga sering diabaikan, sekarang lewat festival mereka bisa menyampaikan laporan, berbagi cerita, dan bahkan pemerintah kalurahan ikut merasakan dampak positifnya,” ujar Ida.
Festival ini memang dirancang sebagai ruang dialog. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga subjek utama yang memamerkan hasil bumi, berbagi cerita tentang siklus tani, atau bahkan menyulap kandang ternak menjadi instalasi seni.
Salah satu hal menarik dari Festival Bèdhidhhing adalah caranya menghadirkan ruang sehari-hari warga menjadi bagian dari pameran. Bukan galeri dengan tembok putih, melainkan pekarangan, pawon, hingga kandang yang disulap menjadi instalasi seni.
Baca Juga: BMKG Jogjakarta Prediksi Kemarau Berakhir Awal Oktober, untuk Kabupaten Kulon Progo Lebih Lambat
Ada pameran tentang siklus pertanian, dari gaplek, benih, sampai pawon. Instalasi seni juga akan menghadirkan ruang hidup warga, bahkan kandang hewan. “Kami juga siapkan area anak, karena penting melibatkan generasi muda sejak dini agar mereka mengenal kebudayaan sendiri,” tutur panitia lainnya Jevi Adhi Nugraha.
Ruang anak memang mendapat perhatian khusus. Di sana, anak-anak akan diajak mengenal kebudayaan lokal melalui permainan tradisional, dongeng, hingga workshop pangan. Harapannya, cerita Jevi, anak-anak yang tumbuh di dusun dapat mencintai dan melestarikan budayanya sendiri sejak dini.
“Ini festival warga dusun, pengalaman semacam inilah yang membuka mata bahwa pengetahuan lokal yang dimiliki warga desa adalah bentuk kecerdasan ekologis yang layak diapresiasi,” ujarnya.
Ida bercerita mulanya Festival Bèdhidhhing lahir dari kesadaran bahwa desa bukanlah entitas yang tertinggal, melainkan ruang hidup yang kaya. Dari desa, pangan dihasilkan, energi disediakan, dan budaya dilestarikan.
Dengan mengusung Padatan Padinan, festival ini mengajak siapa pun untuk melihat kembali hal-hal sederhana dalam keseharian: menanak nasi, menjemur gaplek, merawat ternak, hingga bercerita kepada anak-anak. (pra)
Editor : Heru Pratomo