SLEMAN - Kampung Benih Gamagora 7 yang terletak di Karang Kalasan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dikenal sebagai salah satu wilayah yang sangat menjaga dan merawat tradisi budaya lokal. Salah satu tradisi yang paling dijaga adalah Wiwitan, sebuah upacara adat yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang penuh makna spiritual dan sosial.
Wiwitan merupakan tradisi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Kampung Benih Gamagora 7. Upacara ini dilakukan untuk menghormati leluhur dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala anugerah yang diberikan, terutama hasil bumi yang melimpah. Dalam ritual ini, masyarakat setempat bersama dengan tokoh adat dan sesepuh desa, mengadakan serangkaian prosesi, mulai dari mengambil hasil padi, doa bersama, hiburan musik, dan pembagian doorprize.
Menurut Janu Riyanto, Ketua Kelompok Tani, “pelaksanaan Wiwitan menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan antar warga dan menjaga keberagaman budaya yang ada. "Ini bukan hanya soal ritual semata, tetapi juga upaya untuk menjaga kelestarian budaya, memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda, dan menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam," ungkapnya.
Upacara ini biasanya dilaksanakan pada musim panen atau setelah masa tanam. Setiap elemen dalam upacara memiliki makna yang dalam. Tidak hanya itu, prosesi doa bersama juga menjadi bentuk permohonan agar hasil bumi yang didapatkan dalam musim berikutnya dapat melimpah.
Para sesepuh dan tokoh adat Kampung Benih Gamagora berharap agar tradisi Wiwitan ini tetap terjaga dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Mereka juga berharap agar upacara ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat mendatangkan manfaat bagi perekonomian kampung, tanpa mengurangi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
“Wiwitan adalah salah satu cara kami untuk mengingatkan semua orang akan pentingnya rasa syukur, dan hubungan yang baik antara manusia, alam, dan Tuhan. Kami ingin agar tradisi ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh dunia luar, sebagai bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta yang patut dilestarikan,” tambah Janu.
Rr. Rahmi Sri Sayekti, Koor Lapangan Bidang Produksi Benih, UGM, menambahkan “Harapan saya ke depan, masyarakat semakin mengenal Gamadora 7, yang merupakan hasil inovasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para petani, khususnya dalam hal produksi padi, beras, serta mendukung ketahanan pangan nasional. Harapan selanjutnya, seiring dengan tingginya permintaan terhadap benih yang kami hasilkan, semakin banyak pihak yang berminat menjadi mitra dalam produksi benih padi bersertifikat."
Kampung Benih Gamagora kini menjadi contoh bagaimana sebuah desa bisa menghidupkan kembali dan merawat tradisi budaya yang sudah ada sejak lama, sekaligus menjaga identitas mereka di tengah gempuran globalisasi. Wiwitan di Karang Kalasan Tirtomartani bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga sebuah simbol kekuatan budaya yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Keberlanjutan tradisi budaya seperti Wiwitan di Kampung Benih Gamagora menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap relevan dan penting untuk dilestarikan, bahkan di era modern ini. Dengan adanya komitmen masyarakat, baik generasi tua maupun muda, serta dukungan dari berbagai pihak, diharapkan tradisi ini akan terus hidup dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Yogyakarta, bahkan Indonesia secara keseluruhan.
(Aditya Putra)
Editor : Heru Pratomo