Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketika Prambanan Tak Hanya Tentang Ramayana, Kisah Rumentahing Pajang Ing Prambanan Diilhami Babad Diponegoro

Agung Dwi Prakoso • Senin, 1 September 2025 | 03:35 WIB
Rumentahing Pajang Ing Prambanan, Sebuah Lakon Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Mataram Islam
Rumentahing Pajang Ing Prambanan, Sebuah Lakon Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

 

SLEMAN - Mengangkat kisah yang diilhami dari Babad Diponegoro, lakon 'Rumentahing Pajang Ing Prambanan' menawarkan kisah lain selain epos Ramayana yang telah familiar bagi banyak orang, khususnya masyarakat Prambanan.

Pertunjukan yang digawangi oleh Sanggar Seni Puspa Laras dan warga Bendosari, Madurejo, Prambanan, Sleman itu sukses terselenggara, Sabtu (30/8). Pentas tersebut diadakan di lapangan bola voli yang disulap menjadi panggung megah berlatar simbolik Kerajaan Pajang dan Mataram.

Durasi pertunjukan sekitar satu setengah jam mulai 22.00-23.30. Pertunjukan kolosal itu terdiri dari seni karawitan, tari dan drama yang melibatkan lintas generasi. Mulai anak-anak hingga orangtua.

Baca Juga: Pascaricuh di Polres Magelang Kota, 53Orang Dipulangkan tapi HP dan Kendaraan Masih Disita

Pimpinan Sanggar Seni Puspa Laras Hartoto Wahyudi mengatakan pertunjukan tersebut melibatkan sekitar 52 orang yang seluruhnya merupakan warga Bendosari. Seluruh pemain juga tidak mempunyai latar belakang seni.

"Ada penjual bakso krikil, pak dukuh, pak RT, pak RW dan semuanya bukan dari kalangan seniman," ujarnya saat ditemui pasca pementasan selesai, Sabtu (30/8).

Proses latihan, lanjutnya, mulai dari penyusunan naskah dan latihan adegan maupun musik dilakukan efektif selama 20 hari. Menurutnya, pementasan tersebut menarik untuk ditampilkan ulang sebagai tambahan wawasan sejarah bahwa terdapat peristiwa penting di Prambanan yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kerajaan Mataram Islam yang masih eksis hingga saat ini.

Baca Juga: PSIM Pulang ke Jogja Bawa Tiga Poin, Van Gastel Puas dengan Disiplin dan Dominasi Bola Para Pemainnya

"Setidaknya ada sudut pandang lain dari kacamata sejarah, bahwa selain Ramayana ada peristiwa penting lain di wilayah Prambanan," tuturnya.

Pementasan tersebut juga bertujuan untuk mengenalkan anak-anak tentang sejarah dan budaya Jawa. Ia menilai, proses pengenalan tersebut akan terserap apabila dimulai dari lakon atau cerita yang dekat dengan masyarakat.

"Makanya kami mengambil peristiwa-peristiwa yang dekat dengan kita, ketemu lah peristiwa perang antara Mataram dan Pajang di Prambanan," jelasnya.

Baca Juga: Kapolres Kebumen Sebut Aksi Demonstrasi Ricuh gegara Pelajar Yang Masuk Kelompok Anarko

Menariknya, seluruh biaya kegiatan pentas tersebut didapatkan dari iuran dari seluruh warga. Baik yang masih tinggal di desa maupun perantauan. Mereka bahu membahu untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang menghibur juga mengandung nilai-nilai luhur sebagai pembelajaran generasi sekarang.

"Definisi dari rakyat untuk rakyat," ucapnya.

Salah satu pemeran yang memerankan Panembahan Senapati, Nanda Septianto menambahkan baru pertama kali ini mengikuti proses pertunjukan teater tradisional. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai kurir paket itu merasa senang warga bisa guyub rukun dan menikmati proses seni tersebut.

Baca Juga: UGM Terbitkan Kebijakan Kuliah Daring Empat Hari, Merespons Situasi Politik dan Sosial Indonesia

"Semuanya menikmati, pulang kerja langsung ikut latihan sampai jam 01.00 dini hari bahkan lebih," ujarnya.

Untuk lebih mendalami peran sebagai raja pertama Kerajaan Mataram, dirinya bahkan menyempatkan waktu untuk melakukan ziarah ke makam Panembahan Senopati yang ada di Kotagede. Ia bersama dengan beberapa pemain lainnya mendoakan dan 'kulanuwun' karena akan membawakan lakon tersebut.

"Sebagai tradisi dan unggah-ungguh juga, biar rasa dan spiritnya lebih dapet," bebernya.

Baca Juga: Pihak Universitas Amikom Yogyakarta Minta Kepolisian Terbuka soal Penyebab Kematian Rheza Sendy Pratama

Garis besar alur pertunjukan tersebut adalah konflik antara Kerajaan Pajang dan Mataram pasca Raja Pajang, Hadiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram dan Pati kepada keluarga Ki Ageng Pemanahan.

Konflik dimulai dari kisah percintaan anak Hadiwijaya yang tidak direstui hingga menimbulkan korban yakni Raden Pabelan yang merupakan keluarga Panembahan Senopati, anak Ki Ageng Pemanahan. Dalam pementasan, pertempuran yang disiapkan batal terjadi karena pasukan Pajang dihadapkan dengan bencana besar yang tiba-tiba terjadi di Prambanan. (oso)

Editor : Heru Pratomo
#Bendosari Madurejo Prambanan Sleman #BABAD DIPONEGORO #dukuh #laras #prambanan #sanggar seni #kerajaan pajajaran #epos Ramayana #mataram #islam #ramayana