JOGJA - Program rutinan Pentas Rebon yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (20/8) malam memasuki pelaksanaanya yang terakhir di tahun ini. Tiga pertunjukan seni, mulai dari teater, ketoprak dan Dagelan Mataram memeriahkan panggung Societet Militer TBY.
"Pentas Rebon ini merupakan gelaran yang terakhir untuk menutup tahun ini. Empat gelaran lainnya sudah sukses terlaksana sebelumnya," ujar Kepala TBY Purwiati saat dikonfirmasi, Rabu (20/8/2025).
Pentas Rebon sengaja menampilkan karya dari kelompok-kelompok kesenian yang tersebar di desa di seluruh DIY. Hal itu untuk melakukan pemberdayaan dan branding para seniman di setiap kabupaten/kota.
"Kami memberikan ruang temen-temen seniman di daerah pinggiran yang memang belum terfasilitasi," bebernya.
Ruang itu juga merupakan bentuk panggung pertunjukan untuk memfasilitasi seniman di kabupaten/kota mempertontonkan karya seni lokal yang khas dan menarik. Antusiasme, baik seniman maupun penonton juga sangat tinggi untuk mengikuti acara itu.
"Dilihat dari jumlah penonton, biasanya lebih dari seribu orang saat pelaksanaanya di gedung Concert Hall TBY," tuturnya.
Dua bulan terakhir, lanjutnya, Pentas Rebon diadakan di Gedung Societet Militer TBY dengan kapasitas penonton lebih sedikit yakni 300 orang. Untuk memfasitasi penonton yang tidak bisa masuk, pihaknya juga menyiapkan layar lebar di halaman TBY.
"Apresiasi pagelaran ini tidak hanya diminati oleh orang tua, tetapi lintas generasi, bahkan sampai ke Gen Z," terangnya.
Ia berharap, gelaran Pentas Rebon menjadi kegiatan yang mempunyai kontribusi terkait pengembangan seni dan budaya. Sesuai tugas fungsinya, TBY menjadi ruang atau wadah seniman untuk berekspresi, laboratorium, pelestarian dan pembinaan seni dapat tercapai.
Baca Juga: Kemenag Bantul Dorong UMKM Segera Urus Sertifikat Halal, Baru Ada 740 Orang Memiliki Sertifikat
"Pertunjukan dalam Pentas Rebon tidak menghilangkan pakem atau akar dari pertunjukan tradisional. Namun pengembangan kreativitasmya yang lebih ditonjolkan," jelasnya.
Selain menampilkan seniman lokal kabupaten/kota, Pentas Rebon biasanya juga mendatangkan bintang tamu dari seniman senior yang sudah terkenal. Hal itu untuk membantu branding acara agar lebih banyak orang datang untuk melihat.
"Otomatis memberikan daya ungkit, nantinya seniman dan karyanya juga akan terangkat," tandasnya.
Pertunjukan Pentas Rebon sengaja menggabungkan tiga jenis seni pertunjukan ke dalam satu acara. Harapannya, penonton yang hadir bisa menikmati beragam seni pertunjukkan dalam sekali duduk.
"Untuk menambah khasanah wawasan karya juga dan silaturahmi antar seniman berbagai bidang seni karena saling mengapresiasi," ucapnya.
Pentas Rebon kali ini diisi pertunjukan teater dengan judul Makam Tak Bertuan dari Teater Banyu Mili Gunungkidul. Kemudian pertunjukan ketoprak berjudul Surya Pabaratan dan ditutup pertunjukan Dagelan Mataram dengan judul Omah Warisan.
Pertunjukan itu melibatkan anak-anak, pemuda hingga orang tua yang menjadi aktor dalam cerita-cerita yang dibawakan.
Sutradara pentas Makam Tak Bertuan dan Tuan Tak Bermakam Tisan Cahya mengatakan, pementasan Makam Tak Bertuan dan Tuan Tak Bermakam merupakan pertunjukan naskah karya Agus Prasetyo alias Agus Leyloor. Naskah itu menceritakan tentang keserakahan dalam mengejar duniawi.
"Inti cerita terletak pada konflik di makam keramat yang dijadikan sebagai tempat ziarah untuk meraup keuntungan dari orang yang datang mencari berkah di makam," ujarnya.
Tokoh Pak Juru yang selama ini dipercaya menjaga merawat makam justru memanfaatkan makam keramat tersebut untuk memperkaya diri dan keluarganya. Namun, tokoh Kemit bumi berupaya menjaga dan merawat makam dengan penuh keikhlasan.
"Arwah dalam makam pun menjadi sangat marah dan merasa terganggu dengan ulah orang-orang yang mencari keuntungan dari makamnya," bebernya. (*/oso/laz)