RADAR JOGJA – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah tradisi kuno yang mempunyai makna spiritual dan filosofis masih terlestari di jantung Jawa, yaitu Jemparingan.
Bukan sekadar olahraga memanah biasa, jemparingan merupakan warisan budaya Kerajaan Mataram yang mengajarkan terkait fokus, ketenangan, dan keselarasan jiwa raga.
Jemparingan adalah salah satu warisan budaya yang lahir dan berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Pakualaman.
Tradisi memanah khas Mataraman ini bukan hanya sekadar olahraga, melainkan juga sarana pembentukan karakter, pengendalian diri, dan meditasi batin.
Seiring dengan perkembangan waktu, jemparingan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Yogyakarta yang sarat akan makna filosofis.
Jemparingan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan panahan modern.
Para pemanah duduk bersila (lesehan) dengan busana adat daerah masing-masing, memanah bukan dengan fokus penglihatan semata, tetapi dengan kepekaan hati (pamenthanging gandewa pamanthenging cipta).
Filosofi yang terkandung di dalamnya menekankan nilai-nilai sawiji (fokus), greget (semangat), sengguh (percaya diri), dan ora mingkuh (bertanggung jawab).
Nilai-nilai ini menjiwai setiap tarikan busur dan pelepasan anak panah ke sasaran.
Dalam setiap tarikan busur dan lesatan anak panah, jemparingan mengajarkan kita bahwa fokus pada tujuan, ketenangan dalam setiap gerak, dan keselarasan dengan diri sendiri adalah kunci untuk mencapai keberhasilan, bukan hanya di arena panah, tetapi juga dalam kehidupan.
Jemparingan bukan hanya seni memanah, tetapi juga sebagai seni menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Dalam perkembangannya, tradisi jemparingan tidak hanya dipertahankan di lingkungan keraton, namun juga diwariskan ke masyarakat luas melalui pembentukan komunitas, lomba, dan pelatihan.
Usaha pelestarian ini kian penting di era modern, di mana arus globalisasi berpotensi mengikis minat generasi muda terhadap warisan budaya leluhur.
Tetapi kurangnya pengetahuan dan minat generasi muda terhadap tradisi jemparingan ini mengakibatkan potensi hilangnya nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam olahraga tradisional tersebut.
Karena anak muda pada zaman sekarang lebih senang bermain gadget dan lebih tertarik pada budaya luar yang dianggap keren dan modern dibandingkan dengan mempelajari budaya atau olahraga budaya, misalnya seperti jemparingan.
Selain itu, dokumenter ini juga menyoroti bagaimana komunitas pelestari jemparingan berupaya mempertahankan eksistensinya di tengah arus modernisasi.
Jemparingan saat ini dapat ditemukan di kraton atau organisasi-organisasi jemparingan yang kini sedang berusaha menyebarkan dan memperkenalkan budaya-budaya asli Yogyakarta ini hingga ke turis mancanegara yang sering datang untuk menjadikan jemparingan sebagai salah satu destinasi wisata apabila datang ke Yogyakarta. (Annisa Malika Akbar)
Editor : Meitika Candra Lantiva