Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berbeda dari Tahun Lalu, Kirab Keraton Surakarta Berikan Dua Pusaka untuk Budaya Ngarak Siwur di Imogiri

Cintia Yuliani • Kamis, 26 Juni 2025 | 22:57 WIB

 

PERSIAPAN: Dua gunungan yang akan digunakan untuk Kirab Budaya Ngarak Siwur di Imogiri Kamis (26/6)
PERSIAPAN: Dua gunungan yang akan digunakan untuk Kirab Budaya Ngarak Siwur di Imogiri Kamis (26/6)
BANTUL – Ada yang berbeda dalam prosesi budaya Ngarak Siwur tahun ini di Kapanewon Imogiri, Bantul.

Dalam kirab yang menjadi rangkaian tradisi nguras enceh, Keraton Surakarta secara khusus memberikan dua pusaka yakni Tombak Kyai Agyo Budaya dan Teken atau tongkat Kyai Nogo Sari.

Pusaka ini menjadi simbol spiritual sekaligus peneguhan posisi Imogiri sebagai gapura budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Widodo Supranoto, pengarah Forum Cinta Budaya Bangsa (Forcibb), menyebut penambahan dua pusaka tersebut menjadi warna baru dalam pelaksanaan kirab tahun ini.

Menurutnya setiap tahun memang tidak ada perbedaan signifikan, tapi selalu ada hal baru yang digali. Salah satunya adalah penyematan pusaka dari Keraton Surakarta.

"Tahun ini kita mendapatkan tombak Kyai Agyo Budaya dan teken Kyai Nogo Sari. Karena Imogiri perlu tongkat,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kapanewon Imogiri Kamis (26/6).

Tombak dan tongkat itu, lanjut Widodo, bukan sekadar benda. Masing-masing mengandung makna simbolik tentang keteguhan menjaga budaya.

Tombak Kyai Agyo Budaya kata dia, melambangkan kekuatan mempertahankan tradisi. Sementara teken atau tongkat adalah simbol pegangan hidup.

"Karena kita tidak bisa berdiri tanpa pegangan," tuturnya.

Hal ini mencerminkan semangat yang ditanamkan agar masyarakat Imogiri mampu mengawal budaya, bukan hanya melestarikan, terapi juga mengembangkan kebudayaan yang telah ada.

Ia menambahkan, pemberian pusaka itu juga menjadi penguat status Imogiri yang telah dicanangkan oleh Sinuhun sebagai pinangka gapuraning budaya atau pintu gerbang budaya Jawa.

Widodo menekankan Imogiri adalah ruang kultural yang memadukan warisan budaya Yogyakarta dan Surakarta.

"Nuansa Imogiri bukan Jogja atau Surakarta, tapi Mataram,” tegasnya.

Kirab Siwur sendiri merupakan bagian dari prosesi Nguras Enceh upacara pembersihan gentong air di kompleks makam Raja-raja Mataram Islam.

Tahun ini menjadi pelaksanaan yang ke-24 kalinya. Berbeda dari arak-arakan biasa, prosesi kirab ini memiliki empat tahapan utama.

Dimulai dari Kantor Kapanewon Imogiri, delapan lurah mengawali prosesi pelepasan untuk kemudian menuju ke Kajingan Kulon yang dimiliki oleh Surakarta untuk mengambil siwur dari Keraton.

Selanjutnya, kirab kembali berjalan ke Pengajeng Poroloyo guna mengambil siwur milik Yogyakarta.

Setelah dua siwur terkumpul, prosesi menuju Wahana Parkir Wisata Makam Imogiri untuk dilakukan serah terima kepada pengageng.

Malamnya, dua siwur disemayamkan sebelum digunakan keesokan paginya untuk prosesi Nguras Enceh.

Siwur atau gayung bukan sekadar alat. Dalam budaya Jawa, siwur dimaknai sebagai simbol kehidupan.

"Siwur bukan cuma alat siraman, tapi ada nilai luhur di dalamnya,” terang Widodo.

Meski diselenggarakan lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya, esensi budaya tetap kuat terasa. Hal ini diakui oleh Nur Sukiyo, Ketua Paguyuban Bergada Rakyat DIY.

"Walaupun dilaksanakan lebih sederhana, tetapi tidak mengurangi nilai substansinya. Justru kesakralannya tetap terjaga,” katanya saat ditemui di Kantor Kapanewon Imogiri.

Menurutnya, kirab ini rutin digelar tiap bulan Sura dalam kalender Jawa, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah. Kali ini lebih spesial karena bertepatan dengan malam Jumat Kliwon.

Ratusan peserta dari berbagai elemen turut serta. Mulai dari kontingen bergada se-Kapanewon Imogiri, abdi dalem dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta, hingga warga dari luar daerah seperti Magelang, Muntilan, dan Wonosobo.

Mereka datang tak hanya untuk menyaksikan kirab, tapi juga menyerap nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. (cr2)

Editor : Bahana.
#satu sura #Bantul #kirab keraton surakarta #Imogiri