GUNUNGKIDUL - Dalam upacara tradisi methik pari di Kalurahan Dengok, Kapanewon Playen, Gunungkidul lurah setempat Suyanto mengungkapkan kalurahannya masih mengalami keterbatasan dalam penyediaan air. Khususnya saat musim kemarau tiba. Padahal, menurutnya lahan pertanian di Dengok sangatlah subur.
“Upacara ini mengiringi semangat masyarakat untuk terus menanam dan menghasilkan,” ujar Suyanto Kamis, (19/6).
Sunyanto mengungkapkan di Kalurahan Dengok selama ini hanya memiliki satu sumur bor. Sehingga, saat musim kemarau datang hanya ada sekitar empat hektar lahan yang dapat dialiri air.
Padahal, jika ditotal, menurut Lurah Dengok ada total 20 hektar lahan di kalurahannya.“Menjaga kearifan lokal sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.
Selain itu, Suyanto juga mengaku masih ada area lahan lain dengan luas 25 hektar. Lahan ini sengaja dimanfaatkan untuk program petani milenial. Sebab, menurut Suyanto ini menjadi penting untuk regenerasi petani di wilayahnya.
Di lahan seluas 25 hektar inilah petani milenial Kalurahan Dengok menanam berbagai jenis tanaman hortikultura. Bahkan, menurut Suyanto petani milenial Dengok sudah menghasilkan omzet hingga 90 juta.
“Seperti melon dan semangka itu kan akan maksimal ketika musim kemarau, di sini masih kekurangan air,” ujarnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti yang hadir pun mengungkapkan tanah di Dengok sangatlah subur. Ia juga membenarkan keluhan masyarakat terkait kekurangan air di sektor pertanian.
Baca Juga: Gunakan Mobil Berlambang Siap Amunisi di Berbagai Event, Polresta Sleman Amankan Ribuan Botol Miras
Endah pun berjanji kepada petani milenial Kalurahan Dengok akan mengirimkan bantuan berupa sumur bor. Sebab, ia terkesan dengan peran aktif generasi muda Dengok di sektor pertanian. “
Saya perintahkan agar bantuan sumur ladang segera direalisasikan. Karena air adalah sumber kehidupan. Ini bukti keberpihakan pemerintah,” tegas Endah. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo