Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menjaga Nyala Karinding di Tengah Deru Modernisasi, Riski Tiupkan Semangat Budaya lewat Edukasi dan Musik

Cintia Yuliani • Selasa, 10 Juni 2025 | 05:55 WIB
 
TEKUN: Suku Karinding Jogja yang sedang melaksanakan kegiatan workshop.
TEKUN: Suku Karinding Jogja yang sedang melaksanakan kegiatan workshop.
 
BANTUL - Di tengah deru musik digital dan derasnya arus modernisasi, Erwin Riski atau akrab disapa Iwenk, justru memilih jalan sepi: meniup bambu tipis bernama karinding.
 
Namun, bagi Riski, karinding bukan sekadar alat musik. Ia adalah warisan budaya yang mesti dijaga agar tak lenyap digilas zaman.
 
Perkenalan Riski dengan karinding bermula pada 2014, saat ia baru bergabung dengan Komunitas Rimbun.
 
Baca Juga: SMAN 1 Kebumen Masih Jadi Favorit, Kuota 360 Tiap Hari Didatangi 100 Calon Siswa
 
Di sana, pria kelahiran 1996 itu bertemu sosok bernama Lukim yang memperkenalkan alat musik sederhana dari bilah bambu yang dimainkan dengan getaran mulut. Karinding, alat musik tradisional khas Sunda, Jawa Barat seketika memikatnya.
 
 
 
“Awalnya penasaran. Terus belajar, sampai akhirnya pengin bikin sendiri. Dari situ mulai serius, cari referensi, tanya ke orang, bahkan riset sendiri,” tutur Riski Jumat (6/6/2025). 
 
Lambat laun, ia sadar bahwa karinding tengah mengalami penurunan. Tak banyak lagi yang memainkan.
 
Pelestarian alat musik Karinding seperti meredup. Maka lahirlah gagasan membentuk wadah edukasi. Pada April 2019, Suku Karinding Jogja resmi didirikan olehnya. 
 
Baca Juga: Warga Bantul Bisa Klaim BSU dari Pemerintah, Khusus untuk Pegawai dengan Gaji di Bawah Rp 3,5 Juta, Ini Caranya!
 
Workshop pertama digelar sederhana. Pindah-pindah lokasi, dari warung kopi ke kontrakan mahasiswa. 
 
"Kadang sebulan sekali, bahkan bisa empat kali dalam sebulan," jelasnya.
 
Fokus utamanya bukan membuat semua orang bisa bermain karinding, melainkan mengetahui bahwa alat musik ini ada, hidup, layak dijaga, dan tidak punah. 
 
“Kalau langsung ngajak belajar, berat. Tapi kalau orang tahu dulu, itu sudah cukup jadi awal,” sambungnya.
 
Baca Juga: Stadion Handayani di Gunungkidul Tak Standar, Venue Atletik Porda DIY Masih Tunggu Kejurda
 
Pada saat whorkshop berlangsung, peserta tak perlu khawatir seluruh peralatan disediakan seperti bambu, kater, amplas, dan alat lainnya. Tidak ada biaya pendaftaran. Semuanya gratis.
 
Pesertanya pun beragam, dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga warga negara asing. Tercatat pernah ada peserta dari India, Jerman, dan Rusia.
 
Ia sengaja tidak membanderol harga untuk dapat mengikuti whorshop-nya. 
 
“Saya juga dulu mulai dari nggak punya. Masa sekarang saya bikin berbayar. Nanti malah nggak ada yang minat,” katanya. 
 
Baca Juga: Novan dan Bella Terpilih sebagai Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Magelang 2025, Ini Tugasnya
 
Meski pernah dijeda pandemi selama tiga tahun, kegiatan workshop tetap dilanjutkan ketika situasi memungkinkan.
 
Bahkan sempat berkolaborasi dengan mahasiswa ISI. Kadang, workshop dibawa ke even tahunan seperti yang diadakan di Magelang. Pesertanya bisa mencapai 30 orang.
 
Tak hanya melalui workshop, Riski juga melestarikan budaya lewat musik. Pada 2021, ia bersama tiga rekannya membentuk grup musik tradisional bernama Wingit.
 
Nama itu dipilih karena menggambarkan nuansa mistis dan sakral dari musik yang mereka mainkan.
 
Baca Juga: Marak Penahanan Ijazah oleh Perusahaan, Pakar UGM Sebut Praktik Penahanan Langgar Hukum Ketenagakerjaan: Pekerja Bisa Gugat Jika Ijazah Rusak
 
“Wingit itu tempat yang nggak bisa dimasuki sembarang orang. Ada pakem, ada syarat. Kami menangkap atmosfer itu di musik kami,” terangnya.
 
Anggota Wingit terdiri dari mahasiswa lintas jurusan di ISI Yogyakarta, Vincentio Hadiputra memainkan alat musik suling, Revan Setiawan gambus/gitar, Seno kendang, dan Riski Karinding.
 
Mereka bereksperimen dengan alat musik buatan sendiri dari barang bekas seperti paralon dan toples. Nada-nadanya ditentukan berdasarkan insting pendengaran. 
 
Baca Juga: Catat! Merekam Perjalanan Pasar dari Masa ke Masa, Pameran Abhinaya 2025 Bakal Hadirkan Ratusan Koleksi Lampau
 
“Lubangnya digeser-geser sampai ketemu nada yang pas. Nggak lama bikinnya, kadang benda bekas itu justru sudah punya tuning sendiri,” ujarnya.
 
Wingit pernah tampil di berbagai festival seperti Festival Kesenian Yogyakarta, Festival Keberdayaan Kotagede, hingga Indonesia Got Talent. Di ajang terakhir, mereka lolos sampai 40 besar.
 
“Perasaannya biasa saja. Kita semua sudah biasa manggung sejak lama,” kata Riski. 
 
Baca Juga: Lagi, Angkutan Bajaj Online Terancam SP 2: Dishub DIY Klaim Belum Ada Izin Operasional tapi Nekat Beroperasi  
 
Meski dua rekan pendiri awal komunitas Suku Karinding Jogja sudah pulang kampung, Riski tetap konsisten. Kini, ia mengandalkan para alumni workshop untuk membantu kegiatan. Mereka datang tanpa diminta, sebagai bentuk dukungan pelestarian.
 
Promosi dilakukan seadanya. Biasanya hanya berupa pamflet yang dibagikan tim kecil. Target utamanya mahasiswa.
 
“Kalau anak SMA, kadang malah dibuat mainan. Kalau usia kuliah lebih bisa memahami,” katanya.
 
Baca Juga: Pelari di Alun-Alun Pancasila Kebumen Makin Padat, Pemkab Ditantang Buat Jogging Track Baru
 
Sementara, Wingit terus berjalan santai. Jika ada panggung, mereka tampil. Jika tidak, tak masalah. Benturan jadwal kadang menjadi tantangan, mengingat sebagian anggota masih kuliah semester akhir.
 
Dalam kesunyian suara karinding dan denting alat-alat buatan sendiri, Riski menjaga nyala. Nyala pelestarian, nyala semangat berbagi, dan nyala musik yang menembus batas waktu. (cr2)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#karinding #musik tradisional #musik digital #Warisan Budaya #modernisasi #alat musik