Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keren, Dari Jeruji Motor Jadi Keris Bertuah: Puluhan Seniman Tempa Ikuti Pameran Reka Cipta #2 Bertajuk Lumur Wesi Aji

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 3 Juni 2025 | 03:49 WIB

 

Pengunjung mengamati keris yang dipajang dalam Pameran Reka Cipta #2 di Gedung Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Jogja, Senin (2/6/2025).
Pengunjung mengamati keris yang dipajang dalam Pameran Reka Cipta #2 di Gedung Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Jogja, Senin (2/6/2025).

JOGJA - Sebanyak 39 seniman tempa mengikuti pameran karya Reka Cipta #2 dengan tajuk Lumur Wesi Aji di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) Kota Jogja, 29 Mei hingga 4 Juni.

Pameran tersebut menjadi salah satu wadah pertemuan para seniman tempa dan empu dari berbagai daerah.

Puluhan karya keris dan tosan aji dengan material daur ulang banyak dipajang dalam pameran tersebut.

Karya-karyanya semacam pertemuan antara warisan tradisi yakni keris dengan inovasi kontemporer.

Ketua Paguyuban Lar Gangsir Hedi Hariyanto mengatakan, pameran tersebut bertujuan untuk melestarikan salah satu warisan budaya yakni keris.

Tema Lumur Wesi Aji diambil berdasarkan istilah dalam Ensiklopedia Keris karya Bambang Harsrinuksmo yang menggambarkan jenis besi bernuansa hijau lumut dengan tuah kesuburan dan kekuatan mistik.

"Beberapa karya menonjolkan inovasi bahan, seperti penggunaan jeruji bekas roda motor, potongan keris, hingga pamor berbentuk simbol dan teks modern," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (2/6/2025).

Lumur Wesi Aji juga merujuk pada jenis besi dalam pembuatan keris yang diyakini memiliki daya tuah ekologis dan spiritual.

Dalam pameran, seniman atau empu menafsirkan ulang nilai-nilai budaya, spiritualitas dan keberlanjutan melalui media logam dan pamor.

"Sekaligus mereka merepons isu lingkungan dan regenerasi nilai budaya," tuturnya.

Baca Juga: Geger, Pengurus Partai Ummat DIY Bubar, Beragam Konflik Internal hingga AD/ART Diubah Sepihak Tanpa Melalui Rakernas

Uniknya, para seniman memanfaatkan material bekas dalam membuat karya. Mulai dari suku cadang kendaraan, potongan besi pertanian, hingga sisa gerinda yang diolah kembali menjadi keris bernilai tinggi.

"Pameran ini menjadi medium untuk menggugah kesadaran publik akan pentingnya merawat, menghidupkan, dan mengembangkan kembali tosan aji sebagai bagian bermakna dari sejarah dan jati diri nusantara," jelasnya.

Salah satu seniman atau empu Intan Anggun Pangestu tertarik membuat senjata tradisional Jawa tersebut karena terinspirasi dari empu terkenal, Nyi Sombro.

Selain itu, ia juga melihat bahwa pekerjaan menjadi empu didominasi oleh laki-laki dan sedikit yang perempuan.

"Sependek yang saya tahu sekarang empu perempuan ada lima, di Madura ada. Saya juga tertarik meneruskan sejarah Mbok Sombro,” ujar pengajar ISI Solo itu.

Ia sudah memiliki sekitar 20 karya tosan aji. Salah satu karya yang dipamerkan dalam acara tersebut yakni berwujud keris dengan filosofi tentang daun pisang. Proses pembuatan karya tersebut selama tiga bulan.

"Saya ambil daun pisang sebagai perwujudan perempuan yang lahir kembali entah itu lahir kembali sebagai seorang ibu atau sebagai praktisi atau profesi lain,” tuturnya.

Keris yang ia buat tersebut menggunakan material besi dan baja bahkan untuk mengganti material nikel, ia menggunakan knalpot bekas. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#inovasi kontemporer #lumur wesi aji #material daur ulang #barang bekas #pameran keris #Tosan Aji #seniman tempa