GUNUNGKIDUL - Menggambar sesuai kata hati. Lepas dari jalur aliran dalam ilmu seni rupa. Bahkan muncul berbagai aliran baru yang ingin ditampilkan. Begitulah gambaran lukisan yang ditampilkan Tri Joko Purnomo dalam pameran tunggalnya. Bertajuk Menggambar Gunungkidul, Joko berhasil memamerkan 105 karya lukisnya.
Menurut Joko, seluruh lukisannya menggambarkan kerinduan seniman akan tempat kelahirannya. Rindu itulah yang dijadikan pijakan dasar ide gagasan Joko untuk dituangkan dalam bahasa gambar. Dia pun ingin memasyarakatkan seni pada masyarakat Gunungkidul.
“Semuanya menceritakan tentang Gunungkidul,” ungkapnya Jumat (16/5).
Gambar yang ditampilkan menceritakan soal wisata, kehidupan sosial, hingga seni budaya. Aliran lukisannya bermacam-macam. Mulai dari realis, abstrak, dan ekspresionis. “Itu adalah cara saya untuk memasyarakatkan seni pada masyarakat,” lanjutnya.
Dalam berkarya, Joko tidak mau jika dirinya hanya dibatasi pada satu aliran saja. Sebab jika pemerannya dipenuhi lukisan bergaya abstrak, masyarakat akan susah memahami karyanya.
Oleh sebab itu, Joko menghendaki dalam pamerannya kali ini semua kalangan masyarakat bisa memahaminya. Bagi Joko, bukan lagi saatnya menggunakan seni hanya untuk seni atau seni untuk diri sendiri. Sehingga seni bisa dinikmati semua kalangan. Bukan hanya dari penikmat seni semata. “Sudah wajib dan menjadi panggilan juga agar seni harus kembali ke masyarakat,” tutur Joko.
Pameran ini akan berlangsung hingga 30 Mei di Galeri Wetan Ndalan Gunungkidul. Seluruh lukisan tersebut, bisa menjadi wahana edukasi untuk pelajar dan masyarakat. Sebab pameran ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan bertepatan dengan hari dan bulan menggambar nasional.
Selain itu, pameran ini sebagai diperuntukkan oleh Joko sebagai media promosi pariwisata melalui bahasa gambar.
“Merasa bangga sebagai warga Gunungkidul karena bisa bersama sama menjaga dan mengekspresikan kebahagiaan melalui bidang apa saja yang bisa bermanfaat,” sebutnya. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita