Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bahasa Jawa Krama dan Budaya Kesopanan Mulai Luntur, Ini Usulan Anggota DPRD Jawa Tengah

Muhammad Hafied • Sabtu, 26 April 2025 | 06:45 WIB
Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Zaki Mubarok menggelar Sosialisasi Kebijakan melalui Media Tradisional di GOR Desa Bocor.
Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Zaki Mubarok menggelar Sosialisasi Kebijakan melalui Media Tradisional di GOR Desa Bocor.


 

KEBUMEN - Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Zaki Mubarok menyebut penggunan Bahasa Jawa Krama dalam keseharian perlahan mulai ditinggalkan. Dia menilai, penggunaan bahasa krama yang tak lagi diminati berbanding lurus dengan lunturnya adat ketimuran, yakni sopan santun antar sesama.

Hal ini yang menurutnya perlu menjadi keperihatinan bersama. Menurut Zaki, penggunaan bahasa krama masih akan tetap relevan digunakan lintas zaman, meski sekarang muncul berbagai bahasa atau istilah baru yang identik dengan modernitas.

"Bahasa krama ini sangat adiluhung. Bagaimana kita menempatkan posisi dengan lawan bicara," ujar Zaki saat Sosialisasi Kebijakan melalui Media Tradisional di GOR Desa Bocor, Jumat (25/4).

Zaki menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari karena bahasa tersebut bahasa baku nasional. Namun, menjadi sebuah keperihatinan jika bahasa daerah kemudian ditinggalkan begitu saja. "Tentu, Bahasa Indonesia bagus. Tapi ada juga khasanah bahasa lokal yang patut dipertahankan," jelasnya.

Dari bahasa krama, lanjut Zaki, secara tidak langsung akan membentuk karakter positif bagi masyarakat, terutama di kalangan anak-anak. Dia berharap penggunaan bahasa daerah kembali tumbuh dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat.

Dia juga mengajak institusi pendidikan mulai mengaktifkan kembali bahasa daerah sebagai kekuatan budaya. Sebab penggunaan bahasa krama melalui cara pembiasaan di sekolah.

"Banyak falsafah jawa yang bisa diambil menjadi pedoman hidup. Tapi sayangnya mulai ditinggalkan. Maka saya juga mendorong ada pembiasaan, mulai dari sekolah dan lingkungan keluarga," ucap Zaki.

Sementara itu, pelaku seni budaya Karto Sentanu, 68, mengaku sedih dengan generasi muda yang tak tertarik lagi dengan bahasa krama. Padahal dari Bahasa Jawa, masyarakat akan dituntun dengan banyak pembelajaran.

Utamanya rasa saling menghormati serta memupuk jati diri sebagi pribadi yang andap asor. "Sudah hampir hilang. Dulu ke lebih tua pasti mundhuk-mundhuk (sopan). Bahasanya halus, tidak sembarangan. Sekarang boro-boro," ungkapnya. (fid/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#kebumen #Unggah ungguh #andap asor #zaki mubarok #Bahasa Jawa Krama #dprd jawa tengah