RADAR JOGJA - Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan suci terbesar bagi umat Hindu di Bali.
Dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali (wuku), Galungan menandai kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan).
Bukan hanya sebagai hari suci keagamaan, Galungan juga menjadi simbol keharmonisan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Perayaan Galungan tidak hanya berlangsung satu hari, tetapi merupakan rangkaian upacara yang dimulai jauh sebelum hari puncaknya.
Berikut beberapa tahapan penting perayaan Galungan di Bali yang menjadi ciri khas:
Penyekeban (3 hari sebelum Galungan)
Umat Hindu mulai menyiapkan segala kebutuhan upacara dan menyimpan buah-buahan, terutama pisang, untuk keperluan persembahan.
Penyajahan (2 hari sebelum Galungan)
Hari ini dipersembahkan untuk mempersiapkan perlengkapan upacara dan membersihkan tempat suci di rumah masing-masing.
Penampahan Galungan (1 hari sebelum Galungan)
Di hari ini, masyarakat menyembelih hewan seperti babi untuk diolah menjadi lawar, sate, dan hidangan lainnya.
Ini juga menjadi momen kebersamaan keluarga saat memasak dan mempersiapkan sesajen.
Hari Galungan
Pada hari utama Galungan, umat Hindu melakukan persembahyangan di pura keluarga dan pura desa.
Mereka mengenakan pakaian adat lengkap dan membawa sesajen.
Masyarakat juga meyakini bahwa pada hari ini para leluhur turun ke dunia dan mengunjungi keluarga mereka.
Manis Galungan (1 hari setelah Galungan)
Hari untuk bersilaturahmi, mengunjungi keluarga dan kerabat.
Biasanya digunakan untuk bersantai dan menikmati hidangan yang telah disiapkan sehari sebelumnya.
Ulihan, Pemacekan Agung, dan Kuningan
Perayaan Galungan tidak berhenti di hari utama.
Sepuluh hari setelah Galungan, Hari Raya Kuningan dirayakan sebagai penutup.
Pada hari ini, roh leluhur dipercaya kembali ke alamnya setelah diberi doa dan persembahan selama berada di bumi.
Ciri Khas Galungan: Penjor dan Simbol Harmoni
Salah satu ikon paling mencolok saat Galungan adalah penjor, bambu melengkung tinggi yang dihias janur, buah-buahan, dan hasil bumi.
Penjor dipasang di depan rumah sebagai lambang kemakmuran dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Ciri khas lainnya adalah aroma dupa yang memenuhi udara, nuansa putih-kuning dari kain dan banten (sesajen), serta irama gamelan tradisional yang mengiringi kegiatan keagamaan di pura.
Hari Raya Galungan bukan hanya momentum keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang hidup dan menyatukan keluarga, masyarakat, serta mempertegas identitas spiritual umat Hindu di Bali. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva