Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kalurahan Ngentakrejo, Kulon Progo Lestarikan Tradisi Ngurup, Petani dan Penjual Dawet Barter Gabah dengan Dawet Onggok

Anom Bagaskoro • Minggu, 20 April 2025 | 14:05 WIB

 

BERJUALAN: Warga Ngentakrejo menjajakan dawetnya ke petani.
BERJUALAN: Warga Ngentakrejo menjajakan dawetnya ke petani.
 

 

KULON PROGO - Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo punya cara sendiri dalam memberdayakan masyarakat sekaligus melestarikan tradisi Ngurup.

Memberikan fasilitas berupa pelatihan dan modal, pemkal memberdayakan masyarakat petani untuk bejualan dawet saat masa panen raya.

Lurah Ngentakrejo Sumardi menjelaskan, tradisi ngurup atau sering dikenal berjualan dawet keliling di area panen padi patut dilestarikan. Pasalnya, tradisi ini telah mengakar bagi sebagian besar masyarakat kalurahannya.

"Itu sudah tradisi sejak simbah-simbah kami, dan akan terus kami lestarikan," ucap Sumardi, Jumat (18/4).

Sudah menjadi turun temurun, tradisi ngurup merupakan metode penjualan dawet yang mengincar target pembeli petani. Tradisi ini, seringkali ditemui saat panen raya padi. Penjual dawet nantinya akan membuka lapaknya di pinggir area sawah dan menawarkan dawet ke petani yang akan panen.

Transaksi penjualan dawet bisa menggunakan metode pembelian uang tunai ataupun barter. Metode barter kerap menjadi pilihan utama petani, karena kebanyakan petani jarang membawa uang tunai saat panen padi.

Biasanya penjual dawet asal Ngentakrejo akan menawarkan barter dengan gabah hasil panen. Tentunya nilai gabah yang ditukar disesuaikan dengan nilai jual dawet. Seporsi mangkok kecil dawet dihargai Rp 3 ribu.

Nantinya, barter dengan gabah akan disesuaikan dengan nilai gabah pasaran. "Ciri khas dawet Ngentakrejo berupa dawet onggok," ujarnya

Tradisi pembuatan dawet dan dijual ke petani sudah sangat kental di daetahnya. Apalagi melihat cirikhas dari dawet yang dijual berupa dawet onggok. Dawet ini dibuat dari bahan onggok aren yang telah diolah menjadi kudapan.

Baca Juga: Pelebaran Jalan Bantul Sepanjang 920 Meter Siap Dimulai Mei, Gelontorkan Rp 17 Miliar: Pengerjaan Ditarget Selesai Akhir Tahun

Teksturnya, hampir sama dengan dawet ireng, namun memiliki tingkat kekenyalan dan ukuran yang berbeda. Membuat dawet ini tak sekedar menjadi pelepas dahaga, tetapi juga pengganjal perut.

Adanya tradisi ngurup terus dilestarikan pihak kalurahan. Selain melesatarikan budaya, tradisi ngurup cukup berperan dalam menambah pemasukan masyarakat.

Kebanyakan penjual dawet merupakan petani yang telah selesai menggarap sawah. Sehingga, mereka dapat menghasilkan tambahan penghasilan dari berjualan dawet. "Kami mengadakan pelatihan pembuatan dawet onggok yang lebih efisien," ujarnya.

Sumardi menyampaikan, untuk mendukung tradisi itu, kalurahan mengumpulkan penjual dawet onggok ataupun petani yang mau berjual dawet. Mereka lantas mendapat latihan keterampilan dalam membuat dawet, dan mendapat suntikan dana pengembangan modal.

Hal itu telah dilakukan selama tiga tahun terakhir. Kesuksesan program latihan itu dapat dirasakan hingga sekarang. Saat ini, total penjual dawet onggok saat panen mencapai 50 penjual.

Tak hanya merajai wilayah Kulon Progo, penjual dawet Onggok Ngentakrejo juga sering ditemui di daerah lain. "Ada yang sampai Purworejo, Bantul atau daerah lain, alhamdulilah dapat memberdayakan masyarakat," ungkapnya. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Penjual Dawet #barter #gabah #tradisi #Petani #Kalurahan Ngentakrejo #Lendah Kulon Progo