MUNGKID - Saat seniman lintas tradisi nusantara berdialog, muncullah kreativitas. Sesuai karya seni yang baru dipentaskan. Di Studio Mendut Magelang hal itu direalisasikan oleh 20 seniman. Seperti apa hasilnya?
Komunitas Seni Studio Mendut menggandeng 20 seniman dengan 10 kesenian lokal untuk mengikuti pentas residensi kreasi lintas tradisi nusantara.
Kegiatan ini diharap menjadi jembatan untuk saling mengenal antara seniman muda luar Magelang dengan masyarakat Magelang melalui media seni pertunjukan.
Dia menjelaskan, komunitasnya berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk menyelenggarakan program yang mendukung kegiatan kebudayaan di suatu daerah. "Kami merancang kegiatan di mana ada 20 seniman dari luar daerah berkolaborasi dengan sepuluh kesenian lokal," terangnya, Rabu (16/4).
Dua puluh seniman itu tidak hanya dari Magelang saja, tapi juga dari Tulungagung, Bali Palangkaraya, hingga Riau. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, baik mahasiswa maupun sanggar seni. Seluruh peserta diajak untuk mementaskan kreasi dan saling berkolaborasi dengan kesenian lokal.
Shuko menyebut, ada beberapa pementasan yang ditampilkan. Seperti karawitan padepokan Wargo Budoyo, tari topeng ireng, nggragas movement, dan tari soreng. Lalu, pementasan bertajuk diri atau perusahaan, tari warok, suluk babadan: praktik melipat panggung, serta tari jathilan.
Baca Juga: Pantai Mliwis Kebumen Kalahkan Candi Borobudur, Sedot Wisatawan Terbanyak Ketiga di Jawa Tengah
Selain itu, ada pula tari butho grasak, warok kreasi, amonggeni, dan akrobat steger. Kemudian, soreng penangsang, penjaga rimba, serta orkestra trunthung. "Poin pentingnya, mereka bisa bereksperimen dengan kesenian yang ada dan diolah di sini (Studio Mendut)," kata Shuko.
Dia berharap, kegiatan semacam ini bisa dilaksanakan secara kontinyu. Supaya kesenian lokal, khususnya Kabupaten Magelang akan semakin dikenal luas di berbagai daerah. "Karena antarseniman dan antardisiplin itu sebetulnya saling membutuhkan serta berkomunikasi agar bisa menciptakan karya secara utuh," imbuhnya. (pra)
Editor : Heru Pratomo