JOGJA – Warga Kampung Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja menggelar Kirab Budaya Bakdo Kupat, Sabtu (12/4/2025). Acara yang digelar setelah Hari Raya Idul Fitri tersebut menjadi simbol kerukunan antarwarga serta wujud syukur masyarakat kepada Tuhan.
Dalam tradisi ini, warga berebut ketupat. Selain ketupat sungguhan, juga terdapat selongsong ketupat yang berisikan uang yang diisi oleh warga sekitar. Ketupat berisi uang ini pun juga diperebutkan warga. Ketupat tersebut diperebutkan di halaman Masjid Ibrahim, Kampung Pandeyan.
Sebelum diperebutkan, ribuan ketupat dikirab yang disusun berbentuk gunungan. Selain gunungan ketupat juga terdapat gunungan berisi buah-buahan dan sayur-sayuran.
Kirab Bakdo Kupat ini diikuti oleh ribuan peserta dengan mengelilingi Kampung Pandeyan sekitar tiga kilometer. Kirab ini juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat seperti tokoh-tokoh lintas agama, kesenian jathilan, hingga prajurit Bregodo.
Pengelola Kampung Wisata Pandeyan Atmadi Florian mengatakan, kirab ini merupakan warisan leluhur yang masih bertahan di Kampung Pandeyan dan menjadi salah satu ikon di wilayah tersebut.
Gelaran tahun ini adalah yang ke-16 kalinya sejak pertama kali diselenggarakan pada 2008 silam.“Esensi utamanya selain untuk rasa syukur dan silaturahmi juga untuk membiasakan masyarakat supaya bisa tetap hidup rukun,” katanya, Sabtu (12/4).
Kirab gunungan yang diarak bermakna sebagai refleksi syukur masyarakat kampung yang telah diberikan rejeki berlimpah. “Gunungan kupat yang disebut gunungan kakung merupakan simbol persatuan antara rakyat dengan pemimpin,” ujar Atmadi.
Ada lebih dari seribu ketupat yang dikirab dalam satu gunungan. Beberapa di antaranya adalah ketupat sungguhan, sisanya selongsong berisi uang dan ada yang kosong. “Sebagai bentuk rasa syukur. Kupat ini kan simbol saling memaafkan setelah menjalankan sebulan puasa,” ujar Atmadi.
Selain gunungan kakung berisi ketupat yang dikirab, ada pula gunungan putri yang juga ikut dikirab. Gunungan putri yang juga ikut diarak berisi uborampe seperti palawija dan sayur-sayuran yang merupakan hasil bumi dari warga Kampung Pandeyan.
Atmadi berharap, melalui kegiatan ini, suasana kebersamaan di tengah masyarakat bisa tetap terjaga. Apalagi masih dalam suasana Idulfitri. “Selain melestarikan budaya, juga supaya masyarakat tetap hidup ayem tentrem,” ucapnya.
Mantri Anom Kemantren Umbulharjo, Rahmi Anggraini mengapresiasi warga Kampung Pandeyan yang telah menggelar kirab budaya ini. Menurutnya, selain nguri-uri kebudayaan, Kirab Bakdo Kupat ini juga mempererat tali silaturahmi antar warga.
“Karena yang ikut di sini lintas agama, lintas budaya. Jadi kerukunan dan kebersamaan ada dalam acara ini,” katanya.
Dia menambahkan, kirab di Kampung Pandeyan ini sendiri digelar pascagempa bumi yang melanda DIJ pada 2006. Sebelumnya, wilayah kampung Pandeyan dikenal sebagai daerah “hitam”.
Usai dihantam bencana gempa bumi, banyak warganya yang mulai sadar dan berbenah diri. Hingga akhirnya menggelar Kirab Bakdo Kupat.
“Harapannya bisa digelar terus setiap tahun. Mungkin dalam bentuk atau konsep yang berbeda supaya semakin menarik anak muda untuk ikut terlibat,” harapnya. (tyo/pra)
Editor : Heru Pratomo