RADAR JOGJA - Jamu merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.
Ramuan herbal ini telah digunakan selama berabad-abad sebagai obat tradisional untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit.
Dari racikan sederhana yang diwariskan secara turun-temurun hingga industri modern yang berkembang pesat, jamu tetap menjadi pilihan masyarakat di tengah gempuran obat-obatan kimia.
Jejak Awal Jamu di Nusantara
Sejarah jamu di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak era kerajaan Hindu-Buddha, sekitar abad ke-8 Masehi.
Bukti awal penggunaan jamu ditemukan dalam relief di Candi Borobudur yang menggambarkan perempuan tengah meracik ramuan herbal.
Selain itu, naskah-naskah kuno dari masa Kerajaan Mataram, seperti Serat Centhini, juga mencatat berbagai resep jamu yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu.
Jamu berkembang pesat pada era Kerajaan Majapahit (1293–1527), di mana ramuan herbal digunakan tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga kecantikan.
Para putri kerajaan sering mengonsumsi jamu untuk menjaga kebugaran dan kecantikan kulit.
Perkembangan Jamu pada Masa Kolonial
Pada masa kolonial Belanda, jamu mulai menarik perhatian bangsa Eropa.
Beberapa tabib tradisional mulai meracik jamu secara komersial dan menjualnya dalam bentuk yang lebih praktis.
Namun, saat itu industri jamu masih terbatas dan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pribumi.
Seiring berjalannya waktu, produksi jamu mulai mengalami perubahan.
Beberapa perusahaan jamu pertama di Indonesia lahir pada awal abad ke-20, seperti Jamu Jago (1918) dan Nyonya Meneer (1919), yang berhasil memproduksi jamu dalam skala lebih besar.
Jamu di Era Modern
Memasuki abad ke-21, jamu tidak lagi hanya diracik secara tradisional, tetapi juga diolah menggunakan teknologi modern.
Banyak perusahaan jamu besar seperti Sido Muncul dan Air Mancur mulai mengembangkan produk dengan standar farmasi dan kemasan yang lebih praktis, seperti kapsul, tablet, dan minuman siap konsumsi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan jamu sebagai bagian dari Industri Fitofarmaka, yakni produk herbal yang telah teruji secara ilmiah.
Hal ini membuat jamu semakin diterima oleh masyarakat luas, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai alternatif pengobatan yang berbasis ilmiah. (Nur Rahmawati)
Editor : Meitika Candra Lantiva