Di mana busana yang ditampilkan sebagian besar jarang ditemui karena merupakan hasil rekonstruksi yang bersumber dari berbagai arsip dan manuskrip kuno.
Ketua Pameran Hamong Nagari GKR Bendara mengatakan, di awal tahun selalu ada acara pembukaan pameran yang biasanya diadakan pada malam hari.
Namun mulai tahun ini dan setidaknya tiga tahun ke depan, acara pembukaan akan digelar pada sore hari.
Hal ini disebabkan oleh larangan menabuh gamelan di keraton saat bulan puasa.
“Sehingga sekarang sedikit berbeda pertunjukannya, yakni menghadirkan fashion show yang masih senada dengan temanya yakni aparatur negara,” ujarnya, Jumat (7/3/2025).
Keberadaan aparatur negara dalam Keraton Yogyakarta dapat ditarik dalam Serat Prajanjen, di mana Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I membangun tata kota kerajaan setelah Perjanjian Giyanti di kawasan yang dikenal dengan nama Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dalam proses penataan kota tersebut, Pangeran Mangkubumi juga membentuk kelompok-kelompok aparatur negara sebagai bagian dari struktur pemerintahan yang berdaulat.
Kelembagaan kelompok aparatur negara ini tidak hanya sekadar menggambarkan struktur pemerintahan yang kompleks seperti sekarang.
Aparatur negara pada waktu itu merupakan representasi dari lembaga yang mendukung kedaulatan kerajaan.
Baik dalam aspek pemerintahan, adat, militer, hingga simbolis.
“Hal ini sering kali terlupakan dalam pembahasan mengenai tata kota kerajaan,” kata GKR Bendara.
Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, tercatat ada setidaknya 15 kesatuan prajurit. Namun, beberapa kesatuan ini sudah tidak ada lagi setelah Perang Jawa.
Kelembagaan aparatur negara semakin kompleks setelah Perang Jawa, terutama pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII.
Keterbukaan ekonomi di Yogyakarta saat itu membawa angin segar bagi pembangunan.
Namun konsekuensinya adalah pembentukan lembaga-lembaga baru untuk mengatur pemerintahan yang semakin rumit.
Dalam arsip Tedhak Loji, setidaknya terdapat 113 kelompok aparatur negara. Mulai dari golongan abdi dalem, kesatuan militer, hingga administrasi pemerintahan.
Keberadaan kelompok-kelompok tersebut dapat ditemukan hingga masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IX, sebelum tahun 1942.
Setelah Agresi Militer Belanda II pada 1950 dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, aparatur negara Ngayogyakarta mengalami perubahan yang signifikan.
GKR Bendara menyebut, pembahasan mengenai aparatur negara ini juga harus melihat aspek relevansinya dengan kondisi saat ini.
Keberadaan aparatur negara sebagai elemen pemerintah suatu negara yang menyatakan merdeka merupakan komponen penting dalam mendukung kedaulatan.
Ditinjau dari latar belakang sejarah, kata dia, komponen yang mendukung kedaulatan negara telah dimiliki oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak Perjanjian Giyanti.
“Warisan dari kelembagaan tersebut dapat disaksikan dalam toponimi kampung kota saat ini,” ucapnya.
Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap perhelatan ini menjadi ikhtiar untuk memahami, menghayati, dan meresapi kembali nilai-nilai dharma bakti yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.
Menurutnya, tajuk “Hamong Nagari” menjadi ruang untuk menelusuri jejak panjang eksistensi aparatur Nagari Ngayogyakarta.
“Merekalah yang turut menghidupi dan menjaga kedaulatan keraton. Sejarah keraton juga tentang mereka yang mengabdikan hidupnya,” katanya.
Sri Sultan memaparkan, dalam tatanan Keraton Jogja, aparatur nagari adalah representasi dari harmoni antara kepemimpinan dan rakyat.
Mereka adalah perwujudan makna manunggaling kawula lan gusti.
Sekaligus jembatan yang menghubungkan antara kepemimpinan dan pengabdian.
Nilai-nilai itu tidak hanya hidup dalam laku dan tutur tapi juga terwujud dalam berbagai bentuk rupa. Salah satunya adalah wastra.
Dalam tradisi keraton, wastra bukan semata pakaian, tapi juga simbol kawibawan lan kawiryan.
Mencerminkan nilai dwitunggal yakni ajining diri ana ing lathi dan ajining raga ana ing busana
“Eksistensi keraton termanifestasi pula dari cara aparatnya dalam membawa diri atau among raga sekaligus among rasa dalam menghayati tugasnya,” ujar Sri Sultan. (tyo)