MUNGKID - Seniman Lima Gunung asal Bandongan Khoirul Mutakin menghelat pameran tunggal bertajuk 'Batin Manusia' di Studio Mendut, 1-28 Februari 2025. Sedikitnya ada 20 karya seni berupa topeng yang dipamerkan. Topeng-topeng itu terpasang rapih di dinding.
Irul, sapaan akrabnya menyebut, hanya butuh waktu sekitar dua bulan untuk menyiapkan pameran tunggal itu. Ada 20 buah topeng yang dipamerkan. Topeng-topeng itu merupakan karya terbaru karena dibuat pada akhir 2024 lalu.
Sebetulnya, Irul ingin mengadakan pameran itu pada akhir 2024. Hanya saja, terkendala proses pembuatan katalog. "Kami masih berproses mengumpulkan data-datanya. Itu kan juga membutuhkan waktu lama, terus dibuat (pameran) awal tahun ini," paparnya, Selasa (4/2).
Irul bercerita, pertama kali membuat topeng pada akhir 2010 yang dibantu oleh Presiden Komunitas Lima Gunung (KLG) Sutanto Mendut. Kala itu, dia membuat topeng dengan karakter wajah yang biasanya dipajang di dinding, bukan topeng untuk menari.
Meski tidak memiliki penamaan khusus, topeng tersebut kini mejeng di Studio Mendut. Sejak saat itu, dia aktif membuat topeng sembari berusaha mencari nama dari karakter yang dibuat. "Waktu itu saya belum nemu tokoh topeng karena sebenarnya saya cuma membuat saja," lontarnya.
Dia semakin tekun untuk belajar membuat topeng. Saat menghadiri acara di Jogja, dia justru mendapat pesanan topeng. Bahkan, dia juga diajari untuk membuat karakter topeng, seperti gagrak Jogja maupun Solo.
Hingga kini, dia sudah memproduksi lebih dari 500 topeng. Setiap hari, dia bakal meluangkan waktunya untuk membuat topeng. Hanya saja, proses pembuatannya cukup lama karena membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari. Adapun bahan bakunya berasal dari kayu waru, jati, maupun pule.
Selama ini, Irul tidak kesulitan untuk memperoleh bahan baku tersebut. Biasanya, dia akan membeli di depo atau toko bangunan. Namun, untuk kayu pule, dia akan mencari sendiri. "Kalau saya nebang, saya mohon izin dan berdoa secara batin," sebutnya.
Ketika tidak diizinkan untuk menebang, biasanya kayu tersebut akan terbelah menjadi dua dan tidak bisa digunakan. Dia pun pernah mengalami hal itu. Irul pun tidak bisa memaksa untuk menebang kayu yang tidak diizinkan.
Irul menyebut, satu topeng dihargai mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu. Namun, untuk topeng khusus tari, dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per buah. Sebab, peminat topeng miliknya tidak hanya kolektor saja, melainkan juga para penari koreografer dari luar daerah. Seperti Jogja dan luar negeri, termasuk Jepang.
Rerata, kata dia, topengnya laku mulai lima hingga enam buah sebulan. Tapi, jika sepi, satu bulan hanya laku satu sampai dua buah. "Saya nggak ngirim ke galeri atau tempat-tempat pedagang. Saya cuma melayani penari saja," paparnya.
Sementara itu, Presiden KLG Sutanto Mendut mengutarakan, perjalanan seni Irul dimulai ketika dirinya menderita sakit pernapasan yang cukup mengganggu keseharian. Dia gagal menemukan cara untuk sembuh.
Sang istri, Mami Kato memberi saran untuk melakukan aktivitas yang banyak menggerakkan otot bagian pernapasan. "Satu caranya dengan menatah kayu untuk membuat topeng akhirnya dijadikan sebagai referensi aktivitas," bebernya.
Ternyata, kata dia, proses tersebut memiliki efek terapeutik. Gerakan tubuh saat mengukir kayu membuat Irul sembuh secara fisik. Membuat topeng tidak hanya membantu menyembuhkan tubuh Irul, tetapi juga membuka jalan baru untuknya.
Sejak saat itu, lanjut Sutanto, Irul menekuni seni topeng sebagai pilihan hidup. Menurutnya, Irul dapat membaca lingkungan melalui topeng-topeng yang ia buat. Bahkan, topeng-topeng Irul bukan melulu ada di pameran, tetapi juga disumbangkan kepada koreografer KLG.
Tidak hanya itu, karya-karya Irul juga berhasil menginspirasi teman-teman penyair di Magelang. Topeng karya Irul menjadi satu-satunya yang berhasil memicu Iahirnya puisi-puisi. "Sebuah bukti bagaimanankarya Irul dapat berdialog dengan seni sastra dengan cara yang mendalam dan tak terduga," ucapnya.
Dia menilai, lewat karya-karyanya, Irul menunjukan jika topeng bisa menjadi media penyembuhan, ruang dialog, dan cara untuk merayakan kehidupan. "Pameran ini mengantarkan kita untuk melihat perjalanan artistik Irul yang menjadikan topeng sebagai bagian dari narasi hidupnya," imbuh dia. (aya)