RADAR JOGJA - Yogyakarta sebagai kota budaya selalu tak lepas dari agenda atau aktivitas seni yang memikat dan menarik perhatian wisatawan.
Salah satu agenda yang menarik adalah Pameran Parama Iswari, agenda dari Keraton Yogyakarta yang tidak boleh kamu lewatkan.
Pameran ini merupakan pameran yang menampilkan peran perempuan dalam sejarah Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Acara ini diinisiasi oleh GKR Bendara atas dasar ironi melihat perempuan yang terpinggirkan dalam narasi kolonial.
Istilah “Parama Iswari” memiliki makna perempuan utama dalam budaya Jawa.
Oleh karenanya, pameran ini tidak hanya berfungsi sebatas pameran seni, melainkan sebuah upaya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa perempuan harus memiliki keberanian dan kekuatan demi pengakuan di berbagai bidang kehidupan.
Pameran ini memamerkan koleksi busana, perhiasan, dan manuskrip yang berkaitan dengan peran perempuan dalam sejarah Keraton Yogyakarta.
Pameran ini telah dibuka sejak tanggal 6 Oktober 2024 hingga 26 Januari 2025 mendatang.
Sebagai penutupan, akan ada pertunjukan seni yang dapat kamu jumpai mulai hari ini Rabu (22/1/2025) hingga Jumat (25/1/2025).
Bertempat di bagian utara Keraton, acara ini akan dimulai pada pukul 18.00. Panitia juga akan menutup pintu pameran pada pukul 19.00.
Pengunjung yang ingin menonton pertunjukan cukup merogoh kocek Rp 10.000 untuk tiap orang.
Perlu diketahui, untuk dapat menonton hanya tersedia kuota 700 tiket per hari.
Pengunjung diharapkan datang lebih awal dan mengenakan pakaian yang nyaman dan berlengan.
Selain itu, pengunjung dilarang menggunakan sandal jepit dan memakai batik motif awisan.
Penggunaan topi, rok, dan celana pendek juga dilarang saat menonton pertunjukan seni pameran "Parama Iswari" ini.
Pada pertunjukan hari pertama, pengunjung akan disuguhkan penampilan Srimpi Wiraga Pariskara.
Sementara pertunjukan hari kedua dan ketiga akan diramaikan oleh Srimpi Lobong dan Srimpi Pramugari.
Bagi kamu yang tertarik dengan peran srikandi keraton dalam sejarah, acara ini wajib kamu ikuti untuk memperdalam wawasanmu. Jangan sampai kelewatan, Ya! (Sulthan Zidan)
Editor : Winda Atika Ira Puspita