Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Loro Blonyo: Simbol Keharmonisan, Kemakmuran, dan Tradisi Jawa yang Sarat Makna

Tastabila Maika Warditya • Kamis, 19 Desember 2024 | 20:44 WIB

Contoh patung Loro Blonyo.
Contoh patung Loro Blonyo.


RADAR JOGJA - Bagi masyarakat Jawa, Loro Blonyo bukan sekadar patung, melainkan simbol yang sarat akan makna dan nilai budaya.

Patung sepasang pengantin ini sering dijumpai dalam berbagai tradisi, terutama dalam pesta pernikahan, sebagai lambang keharmonisan, kemakmuran, dan kesuburan.

Patung Loro Blonyo memiliki sejarah panjang yang tercatat sejak masa kepemimpinan Sultan Agung di Kerajaan Mataram pada tahun 1476.

Dengan desain khas dan filosofi mendalam, patung ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Jawa hingga kini.

Makna Filosofis Nama dan Wujud Loro Blonyo

Nama Loro Blonyo berasal dari kata “loro” yang berarti dua, dan “blonyo” yang bermakna dihias atau diberi warna.

Secara harfiah, patung ini menggambarkan sepasang laki-laki dan perempuan yang dihiasi dengan beragam warna dan ornamen khas.

Patung wanitanya melambangkan Dewi Sri yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa dikenal sebagai Dewi Kesuburan dan pelindung tanaman padi.

Sedangkan patung lelakinya adalah simbolisasi dari Dewa Wisnu, dewa pelindung dalam mitologi Hindu.

Keduanya dipadukan sebagai pasangan yang harmonis, menjadikan Loro Blonyo simbol kemakmuran, kesinambungan, dan keberuntungan.

Detail Busana dan Riasan Khas Jawa

Setiap detail dari patung Loro Blonyo menyimpan kekayaan budaya yang khas.

Patung laki-laki mengenakan kuluk kanigara, yaitu penutup kepala berwarna hitam dengan garis kuning melingkar, lengkap dengan kain dan sabuk tradisional Jawa.

Patung wanitanya, di sisi lain, memakai kemben khas Jawa dengan tambahan riasan paes di dahi.

Rambutnya digelung dengan hiasan sunduk mentul, menciptakan tampilan yang anggun dan memancarkan aura keanggunan perempuan Jawa.

Legenda Dewi Sri dan Dewa Wisnu

Di balik patung ini terdapat legenda yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Jawa.

Menurut cerita, Dewi Sri adalah seorang wanita cantik bernama Retno Dumilah yang diciptakan oleh Batara Guru untuk menghilangkan kesepiannya.

Namun, karena Dewi Sri menolak cinta Batara Guru, ia menjadi murka dan mengutus Kala Gumarang untuk mengejarnya.

Kala Gumarang yang akhirnya dikutuk menjadi babi, tetap mengejar Dewi Sri hingga ke dunia manusia.

Tempat tinggal Dewi Sri pun berubah menjadi lahan yang subur dengan tanaman padi yang bercahaya.

Prabu Mangkukuhan, raja Kerajaan Medang, akhirnya mengambil Dewi Sri sebagai istrinya setelah menyatu dengan Batara Wisnu.

Karena kisah ini, masyarakat Jawa percaya bahwa Dewi Sri membawa kesuburan dan panen berlimpah, sehingga ritual seperti bersih desa dan labuhan sering dilakukan untuk menghormatinya.

Baca Juga: Destinasi Wisata Menoreh Dreamland Spot di Tengah Hutan Pinus Yogyakarta, Cocok untuk Liburan Akhir Tahun

Simbol Keharmonisan dan Kehidupan Rumah Tangga
Selain sebagai lambang kesuburan, Loro Blonyo juga dipercaya membawa aura positif ke dalam rumah.

Kehadiran patung ini dianggap dapat menjaga keharmonisan rumah tangga, memperkuat hubungan pasangan suami-istri, serta melindungi keluarga dari energi negatif.

Hingga kini, Loro Blonyo tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama sebagai simbol tradisi dan kebudayaan.

Patung ini tidak hanya menghiasi acara pernikahan, tetapi juga sering dijadikan dekorasi rumah, mencerminkan harmoni dan keberuntungan.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#patung #sepasang pengantin #loro blonyo #simbol #sarat makna #keharmonisan #Kemakmuran #Mengenal #Tradisi Jawa