JOGJA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi meluncurkan Agenda Budaya Jogja Manggatra tahun 2025. Mengambil tema Nandur Pakarti, ratusan even seni dan budaya unggulan akan memeriahkan Jogjakarta tahun depan.
"Kita sedang menanamkan benih-benih budaya yang akan tumbuh menjadi kekuatan, untuk mewarnai wajah peradaban kita di masa depan," ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Beny Suharsono dalam sambutannya yang dibacakan Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan Aris Eko Nugroho, Selasa (10/12) malam.
Ia menilai tema Nandur Pakarti merupakan kata sederhana namun penuh dengan makna. Dalam tema itu, masyarakat diajak untuk memulai suatu aktivitas dengan sadar, tulus untuk melestarikan kebudayaan di Jogjakarta.
"Sebagaimana seorang petani yang menanam padi dengan harapan panen yang berlimpah, kita di sini menanam nilai-nilai budaya, sebagai warisan luhur yang akan terus hidup dan berkembang, melampaui batas waktu dan generasi," tuturnya.
Nandur dalam budaya Jawa tidak hanya dimaknai sebagai menanam. Namun merupakan langkah awal dari sebuah proses yang panjang. Setelah menanam, harus dibarengi dengan merawat dan menjaga agar membuahkan hasil yang baik. "Proses ini membutuhkan kerja keras, kebersamaan, dan cinta terhadap apa yang kita tanam," bebernya.
Tak beda halnya dengan pemaknaan pakarti. Kata itu dimaknai sebagai cerminan dari sebuah tindakan nyata yang tidak lepas dari kearifan lokal, spirit gotong royong, dan komitmen untuk memajukan kebudayaan. "Budaya tidak hanya menjadi atribut dan identitas, tetapi juga menjadi jangkar moral bagi kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan berdaya," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Disbud DIY Dian Lakhsmi Pratiwi menambahkan, tema itu sekaligus mengajak untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya sebagai investasi berharga dalam membangun peradaban. Nandur pakarti merupakan panggilan bersama menanam dua kebajikan dalam aspek fisik maupun kognitif.
"Investasi fisik, mencakup penguatan sarana prasarana budaya sedangkan kognitif berupa pengembangan talenta melalui internalisasi tata nilai budaya dan peningkatan keahlian masyarakat," ujarnya.
Pihaknya juga telah merancang 188 agenda budaya unggulan ditambah 15 agenda rutin sepanjang tahun 2025. Agenda-agenda ini dirancang untuk menampilkan keberagaman seni dan budaya DIY serta memberikan dampak luas bagi masyarakat.
Ia juga memaparkan capaian kebudayaan DIY pada tahun 2024. Sampai triwulan akhir 2024, lebih dari 1.141 event seni dan budaya telah diselenggarakan dengan melibatkan lebih dari 43 ribu sumber daya manusia (SDM).
"Sebanyak 38 persen seniman, 24 persen pelajar, 18 persen masyarakat umum dan sisanya akademisi dan budayawan," tuturnya.
Setiap even yang diselenggarakan tahun lalu, lebih dari 2.442 pelaku UMKM juga dilibatkan. Rinciannya, 25 persen merupakan penyedia katering, 19 persen publikasi dan dokumentasi, 14 persen dekorasi, 11 persen properti seni, 10 persen percetakan, 8 persen penyelanggara acara dan 4 persen kerajinan.
"Kami juga menyediakan layanan reguler seperti program Jogja Heritage Track dengan 1.178 trip dan Wajib Kunjung Museum dengan 231 trip yang telah melibatkan ribuan peserta," tambahnya.
Dalam mendukung penguatan kapasitas komunitas seni, pada 2024 sampai triwulan akhir, Dinas Kebudayaan DIY telah menyerahkan hibah berupa 70 set gamelan besi, 1 set gamelan kuningan, 3 set gamelan perunggu dan lebih dari 100 set pakaian serta peralatan seni jathilan. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo