Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pameran Bersama Tema Bara Kumara di Taman Budaya Embung Giwangan, Gunakan Pakai Simbol Visual Pintu dan Jendela

Elang Kharisma Dewangga • Kamis, 5 Desember 2024 | 14:35 WIB

 

 

Pengunjung mengamati benda koleksi yang dipamerkan saat pameran bersama museum kota Jogja di Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja, Rabu (4/12). Pameran itu yang diikuti 7 museum itu digelar untuk menampilkan potensi koleksi museum yang ada di kota Jogja (F
Pengunjung mengamati benda koleksi yang dipamerkan saat pameran bersama museum kota Jogja di Taman Budaya Embung Giwangan, Jogja, Rabu (4/12). Pameran itu yang diikuti 7 museum itu digelar untuk menampilkan potensi koleksi museum yang ada di kota Jogja (F
 

JOGJA - Dinas Kebudayaan Kota Jogja kembali menggelar Pameran Bersama Museum dengan tema “Bara Kumara”. Pameran berlangsung dari Selasa (3/12) hingga Minggu (8/12) di Taman Budaya Embung Giwangan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti mengatakan, tema “Bara Kumara” dipilih karena memiliki makna mendalam, yakni Semesta Pemuda. Pameran ini menggunakan simbol visual pintu dan jendela untuk menggambarkan pola relasi antar pemuda, interkoneksi antar museum, serta upaya menyelami pemikiran dan kehidupan pemuda.

“Harapan kami, rangkaian kegiatan pameran tidak hanya mampu menampilkan potensi koleksi museum, melainkan sebagai jalan untuk melahirkan kerja sama dan kemitraan dengan para pelestari budaya,” katanya Rabu (4/12).

Pameran Bara Kumara ini menampilkan koleksi dari tujuh museum di Kota Jogja. Yakni Museum Dr Yap, Museum Bahari, Museum Kraton, Museum Pakualaman, Museum Batik, Museum Taman Pintar, dan Museum Dewantara Kirti Griya. 

 Beberapa koleksi yang ditampilkan berupa miniatur kapal Dewa Ruci, seragam kadet TNI AL, koleksi batik dari Museum Batik, serta sebuah keris koleksi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Koleksi ini dinarasikan dengan apik membentuk sebuah jalinan cerita sejarah tentang eksistensi pemuda periode akhir ke-19 hingga awal abad ke-20.

Koleksi dari museum ini didisplay dalam instalasi yang terbuat dari jendela dan pintu-pintu bekas. Pintu dan jendela ini melambangkan pintu kebudayaan dalam upaya mengawali interkoneksi museum di Kota Jogja.

“Pameran ini merupakan hasil akhir dari sebuah kerja kolaborasi dari berbagai unsur baik pemerintah, museum, kurator, mahasiswa, dan komunitas budaya dalam wadah instalasi pameran,” ucap Yetti.

Dia mengungkapkan, pameran ini merupakan puncak kegiatan Pembinaan Permuseuman di tahun 2024. Di awal 2024 lalu, pemerintah melakukan penelitian survei kualitas museum yang berhasil mengidentifikasi hambatan pengelolaan permuseuman. Seperti pendanaan, sumber daya manusia, promosi, dan minat publik. 

Untuk membantu mengatasi permasalahan itu, kemudian dilaksanakan program lanjutan yaitu Youth Museum Internship di empat museum berkembang, yaitu Museum Bahari, Museum Dr Yap, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Batik.

Pemerintah juga menggandeng mahasiswa seni dan humaniora dari tiga kampus di Jogja yaitu UGM, UNY, dan ISI Jogja.

“Langkah ini diupayakan untuk mengatasi keterbatasan SDM museum dalam upaya penyusunan program public. Untuk itu, kegiatan magang museum ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh museum,“ ujar Yetti.

Selama berlangsungnya acara, pengunjung tidak hanya dapat melihat koleksi pameran, namun juga dapat mengikuti aktivasi publik yang ditampilkan oleh beberapa museum. Seperti workshop membatik, workshop olah rasa, workshop dolanan anak, wajib kunjung museum, code hunter, science experiment, dan jemparingan.

“Lewat pameran ini, museum tidak hanya mampu mengumpulkan dan men-display sebuah koleksi saja. Namun juga mampu menyusun sebuah program aktivasi untuk menghidupkan museum sebagai ruang publik,” tandas Yetti. (tyo/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Taman Budaya Embung Giwangan #Kota Jogja #dinas kebudayaan #bara #museum #Yetti Martanti #Kumara #Pameran Bersama