Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Japa Japane Jiwo, Pertunjukan Tari Besutan TBY Siap Tampil di Aceh, Hadirkan Konsep Islam dan Budaya Jawa yang Beriringan

Elang Kharisma Dewangga • Rabu, 27 November 2024 | 14:45 WIB

 

Para penari menggelar gladi bersih di Gedung Societeit Militair, Taman Budaya Jogja, Selasa (26/11). gladi bersih itu dilakukan untuk mengikuuti pentas temu karya taman budaya se Indonesia 2024 di Aceh (Foto: Elang Kharisma Dewangga).
Para penari menggelar gladi bersih di Gedung Societeit Militair, Taman Budaya Jogja, Selasa (26/11). gladi bersih itu dilakukan untuk mengikuuti pentas temu karya taman budaya se Indonesia 2024 di Aceh (Foto: Elang Kharisma Dewangga).

 

JOGJA - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) telah mempersiapkan grup tari yang akan tampil mewakili TBY di perhelatan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2024 di Taman Budaya Aceh (TBA). Konsep pertunjukan tari yang kental dengan nusansa Jawa dan Islam ini akan disuguhkan perwakilan dari Yogyakarta.


Kepala TBY Purwiati mengatakan, konsep pertunjukan tari yang akan dibawakan disesuaikan dengan tempat pementasan. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sangat lekat dengan syariat Islam, sehingga konsep tarian disesuaikan dengan budaya di Aceh. "Kostum penari disesuaikan, itu salah satu wujud menghargai budaya di sana," ujarnya.


Konsep tradisional dan modern dipadukan dalam pertunjukan tari dengan durasi sekitar 14 menit. Sebanyak 16 penari yang terbagi rata perempuan dan laki-laki akan memeriahkan panggung TBA pada 3 Januari 2025. "Sepasang penari dikonsep memakai kostum pengantin Jangan Menir untuk memperlihatkan mewakili budaya Yogyakarta," ungkapnya.


Koreografer tari TBY Tri Anggoro mengatakan, ia diminta untuk membuat konsep tari bertema islami. Alhasil jadilah judul pertunjukan tari Japa Japane Jiwo. Konsep tarian mempresentasikan tentang ageman atau agama sebagai pegangan hidup manusia. "Hidup harus mempunyai dasar yang kuat, agama atau ageman adalah dasar kehidupan," ujarnya.


Pertunjukan tari yang akan dibawakan merupakan representasi budaya Islam yang terus berkembang sesuai zaman. Di Yogyakarta, Islam beriringan dengan budaya Jawa yang memuat nilai-nilai adiluhung.


"Japa sebagai syariat purwaning laku jantra, Japane hakekat madyaning ngelmu nyawiji dan Jiwo makrifat suci ing rada sebagai akhir laku batin manusia," jelasnya.

Kancil, sapaan akrab Tri Anggoro mengatakan, ide konsep tari itu terinspirasi dari kesenian montro atau seni tarian salawat dari Bantul dan salawat emprak Jawa. Ia juga menyebut seni Rodad juga menjadi cikal bakal terbentuknya konsep pertunjukannya. "Kesenian itu merupakan aktivitas syiar salawat yang dulu sekaligus untuk pertunjukan," tambahnya.


Syair-syair salawat dalam versi Arab dan Jawa menjadi background musik iringan. Musik rebana dan musik modern dipadukan, menciptakan aransemen musik yang ciamik. Musik dengan ritme cepat memunculkan nuansa semangat bagi penonton. "Sengaja musiknya rapet dan energik, biar dapat kedan heroiknya," bebernya.


Para penari menempuh proses krreatif selama dua bulan. Ia sengaja memadukan sosok penari wanita dan laki-laki untuk menunjukan dua unsur ciptaan Tuhan.
"Mereka berpasangan, namun tidak bersentuhan hingga akhir pertunjukan. Lebih pada komunikasi visual saja," jelasnya. (*/oso/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#Taman Budaya Yogyakarta (TBY) #aceh #tradisional #Yogyakarta #tari #TBA #grup