RADAR JOGJA - Upacara sakral Numplak Wajik menjadi salah satu rangkaian penting yang menandai dimulainya persiapan untuk upacara Garebeg atau Grebeg di Keraton Yogyakarta.
Tradisi ini melambangkan proses awal pembuatan gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat.
Gunungan tersebut nantinya akan diarak dan dibagikan kepada warga dalam prosesi Garebeg yang penuh khidmat.
Dalam satu tahun, Keraton Yogyakarta menggelar tiga kali upacara Garebeg, yakni Garebeg Mulud untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad, Garebeg Syawal menandai berakhirnya bulan Ramadan, dan Garebeg Besar untuk merayakan Idul Adha.
Dengan adanya gunungan pada setiap Garebeg, maka upacara Numplak Wajik juga digelar tiga kali dalam setahun.
Numplak Wajik berlangsung dua hari sebelum Garebeg, tepatnya pada pukul 16.00 di halaman Magangan Keraton Yogyakarta.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tetapi juga memiliki makna spiritual mendalam.
Prosesi ini dipercaya sebagai bentuk doa agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar, terhindar dari marabahaya, serta menjadi ajang mempererat rasa kebersamaan masyarakat.
Wajik, kue khas yang terbuat dari ketan, gula merah, dan santan, menjadi elemen utama dalam Gunungan Estri, salah satu jenis gunungan dalam Garebeg.
Wajik ini disusun bersama tiwul, makanan berbahan dasar singkong kering sebagai pondasi bagi mustaka atau puncak gunungan.
Proses numplak, yakni menuang adonan wajik dengan cara membalikkan wadah besar, menjadi inti dari upacara ini.
Rangkaian upacara diawali dengan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji, dilanjutkan dengan persiapan jodhang oleh Abdi Dalem Kanca Abang.
Jodhang adalah landasan kayu tempat gunungan diletakkan sebelum diarak.
Selama prosesi berlangsung, irama Gendhing Tundhung Setan dimainkan menggunakan lesung dan alu, menciptakan suasana khidmat.
Sebakul besar wajik dituangkan ke atas jodhang, membentuk silinder setinggi pinggul orang dewasa.
Rangka bambu gunungan kemudian dipasang dan diikat pada pasak besi jodhang.
Mustaka gunungan yang sudah disiapkan sebelumnya ditancapkan di atas wajik sebagai puncak.
Abdi Dalem Keparak selanjutnya mengoleskan lulur tradisional dari dlingo dan bengle pada jodhang.
Sinjang songer dan semekan bangun tulak kemudian dililitkan pada rangka gunungan, melambangkan kesiapan gunungan untuk diarak dalam Garebeg.
Gejog lesung berhenti dimainkan sebagai tanda bahwa prosesi telah selesai.
Lulur dlingo bengle dibagikan kepada Abdi Dalem dan pengunjung yang hadir.
Dalam tradisi Jawa, dlingo dan bengle dipercaya sebagai rempah-rempah penolak bala karena aromanya yang tidak disukai makhluk halus.
Numplak Wajik adalah wujud permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar prosesi adat berjalan lancar, sekaligus menjadi pengingat betapa pentingnya melestarikan warisan budaya yang kaya ini.