RADAR JOGJA - Bahasa Jawa adalah bagian dari kebudayaan yang semestinya dilestarikan. Namun para guru mengaku kesulitan mengajarkannya lantaran bahasa Jawa tak lagi biasa digunakan di rumah.
Guru SDN Kandangan 2 Sri Rahmawati menjelaskan, bahasa Jawa diampu oleh guru kelas. Dalam satu minggu hanya mendapat kuota selama dua jam pelajaran atau 70 menit. "Mau ganti-ganti kurikulum, dari dulu tetap dua jam pelajaran. Ini masuk muatan lokal," katanya.
Dalam waktu terbatas dia mesti mengajar para murid yang tidak bisa berbahasa Jawa. Maksimal mereka hanya mampu bahasa Jawa kasar atau ngoko. "Anak-anak itu fasihnya bahasa Indonesia. Kalau bahasa Inggris juga lebih pinter daripada bahasa Jawa," terangnya.
Di sisi lain, teknologi juga berpengaruh besar. Sri menilai tontonan televisi dan permainan di telepon juga tak banyak menggunakan bahasa Jawa. "Kalau zaman saya dulu adanya TVRI. Di sana ada geguritan atau cerita bahasa Jawa. Jadi termotivasi. Anak sekarang tentu tidak kenal," terangnya.
Sri berpendapat, kondisi ini juga terjadi lantaran orang tua tak membiasakan anak untuk menggunakan bahasa Jawa. Padahal, sekolah dasar hanya tempat memoles kemampuan siswa. "Orang tua kalau menambah les juga lebih ke bahasa Inggris. Memang bergeser," ujarnya.
Guru kelas 1 ini menerangkan, untuk pengucapan kata saja murid kerap kali salah. Apalagi untuk menyebutkan objek atau kata kerja dalam bahasa Jawa. Kondisi ini membuat nilai bahasa Jawa para siswa tak baik. "Masyarakat kami yang masih pedesaan juga banyak pakai bahasa Indonesia," ucapnya.
Meski demikian, sekolahnya tetap berusaha. Salah satunya setiap Kamis Pon, bahasa Jawa wajib digunakan sebagai alat komunikasi di sekolah selama sehari penuh. Pada hari tersebut seluruh anggota sekolah juga mengenakan baju adat. Umumnya juga dikenalkan dengan berbagai permainan tradisional.
Dia hanya berharap akan ada terobosan bagi orang tua terkait pendidikan bahasa Jawa. Menurutnya, pendidikan yang baik selalu berasal dari rumah. "Harus sinkron antara guru dan orang tua di rumah," katanya.
Senada dengan Yeni. Guru kelas 5 sekolah dasar ini menilai, justru lebih mudah mengajarkan matematika dan IPA daripada bahasa Jawa. "Tapi untuk bahasa sederhana seperti monggo dan matur nuwun kita selalu bekali," ucapnya. (del/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita