RADAR JOGJA - Lunturnya bahasa Jawa sebagai bahasa ibu di kalangan masyarakat DIY mulai terlihat jelas. Banyak anak-anak yang kini lebih luwes menggunakan Bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Padahal, bahasa Jawa bisa dibilang sebagai identitas masyarakat suku Jawa. Kadangkala ada anak-anak yang menggunakan bahasa Jawa. Namun mereka cenderung menggunakan bahasa Jawa ngoko bercampur dengan bahasa Indonesia dalam kesehariannya.
Tidak ingin menghilangkan identitasnya sebagai masyarakat Jawa, Kelik Abuchoeri berusaha penuh untuk mengajarkan anak-anaknya untuk tetap menggunakan Bahasa Jawa. Sebagai seorang ayah dari dua putra, ia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mahir menggunakan Bahasa Jawa. "Mosok wong Jawa ilang Jawane. Makanya sejak kecil harus diajarkan ke anaknya," ucap Kelik.
Ia menjelaskan, anak-anaknya yang kini telah menginjak umur 20-an telah mahir menggunakan bahasa Jawa sejak kecil. Bahkan penggunaan bahasa Jawa krama inggil telah digunakan anak-anaknya sejak umur 10 tahun hingga saat ini. Tentunya penggunaan krama inggil bergantung pada situasi, kondisi, ataupun lawan bicara.
Kelik menceritakan, anak-anaknya tak terlalu belajar banyak untuk memahami bahasa Jawa lebih jauh. Lantaran, bahasa jawa seringkali digunakan di dalam rumah. Saat berbicara dengan anak-anaknya, Kelik lebih memilih menggunakan bahasa jawa. Hal ini dilakukan agar anak-anaknya perlahan-lahan terbiasa dan memahami lebih dalam mengenai penggunaan bahasa Jawa. "Kalau untuk krama inggil memang harus bertahap, orang tua juga berperan mengingatkan," ujarnya.
Dalam proses pengenalan bahasa Jawa krama inggil terhadap anak memang membutuhkan kesabaran. Pasalnya, tingkatan bahasa Jawa perlu pendalaman lebih jauh dengan setiap kosa kata. Penggunaan kosa kata juga perlu perhatian. Krama inggil menekankan pembahasaan lebih tinggi kepada orang yang lebih tua.
Mengajarkan anak krama inggil perlu diimbangi dengan saran ataupun koreksi jika anak salah mengucapkan. Koreksi dimaksudkan agar anak dapat memperbaiki. Tentunya, koreksi dilakukan saat berada di rumah ketika sang anak berbicara dengan orangtuanya sendiri.
Menurutnya, langkah itu cukup efektif dalam membentuk anak agar luwes dalam menggunakan bahasa jawa krama inggil di kesehariannya.
Langkah Kelik mengajarkan anak-anaknya berbahasa jawa bisa dibilang sebagai wujud pelestarian budaya. Kendati dirinya bukan seorang akademisi di bidang sastra Jawa, ia menginginkan anak-anaknya untuk tak meninggalkan jati dirinya. Bahkan penggunaan nama anak-anaknya sengaja menggunakan frasa bahasa Jawa, agar anak-anaknya mengingat suku dan bangsanya. "Di era sekarang mau tidak mau harus beradaptasi tanpa meninggalkan jati diri," ujarnya.
Senada dengan Kelik, Futiah menjelaskan alasan di balik pengenalan bahasa Jawa ke anak. Selain untuk pelestarian, dirinya ingin anak-anaknya bisa menguasai berbagai bahasa. Sehingga pengenalan bahasa sejak kecil dapat mempermudah anaknya dalam mempelajari bahas asing saat berada dibangku sekolah.
Bahasa Jawa sebagai identitas lokal sejatinya perlu diperhatikan. Tak hanya pada pendidikan formal, namun dalam keseharian. Lantaran, saat pendidikan formal porsi penggunaan bahasa jawa cenderung sedikit. Sehingga, saat keseharian penggunaan bahasa jawa lebih diperbanyak. "Ngudang anak juga menggunakan bahasa Jawa krama inggil," ujarnya.
Dalam mengajarkan anak menggunakan bahasa Jawa, orang tua harus menjadi figur contoh. Peran suami istri untuk mencontohkan penggunaan bahasa Jawa sangat dibutuhkan. Saat berbicara dengan suami maupun istri, biasakan menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Sehingga, anak-anak akan mencontoh hal itu saat mereka mulai memahami setiap kosa kata. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita