JOGJA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) DIJ melaksanakan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Program tersebut sebagai upaya melestarikan kesenian dan memahamkan kaitannya dengan artefak tak benda kepada siswa di sekolah.
Kepala Dindikpora DIJ Didik Wardaya mengatakan program tersebut telah berlangsung lama dengan dilaksanakan setahun sekali. Beberapa sekolah mulai dari SD-SMA terpilih akan menjadi tujuan para seniman untuk melatih berbagai macam bidang seni."Proses belajar dilakukan beberapa bulan dan finalnya nanti mereka kami beri panggung untuk pentas, seperti sekarang," ujarnya, Jumat (8/11).
Sekolah yang terpilih tersebut sebelumnya mengajukan proposal dan ditujukan ke Dindikpora DIJ.
Baca Juga: Separo Wilayah Kebumen Rawan Bencana, BPBD Ingatkan Potensi Banjir, Angin Kencang dan Longsor
Selanjutnya, tim akan melakukan seleksi. Ketika terpilih nantinya seniman-seniman akan masuk ke sekolah tersebut untuk mengembangkan seni tradisional. "Tujuannya untuk menumbuhkan cinta seni lokal dan mengembangkan budaya-budaya lokal Jogjakarta," tuturnya.
Tahun ini, terdapat sekitar 20 sekolah yang lolos dalam seleksi. Namun, antusias sekolah yang ingin mengikuti program tersebut relatif tinggi. Hal itu dilihat dari jumlah proposal masuk yang totalnya bisa 2/3 kali lipat dari jumlah kuota. "Yang mengajukan banyak, tapi tidak semua terpilih. Jadi gantian gitu," bebernya.
Program tersebut erat kaitannya dengan pendidikan berbasis budaya seperti pendidikan Khas Kejogjaan yang siteraokan di sekolah-sekolah di DIJ. Menurutnya, pendidikan budaya sebagai isi, pendekatan dan cerminan masyarakat. "GSMS bagian dari upaya memahamkan kaitannya dengan artefak tak benda kepada siswa di sekolah," jelasnya.
Contoh kesenian lokal yang dikembangkan para seniman dalam program tersebut di antarannya pedalangan, panembrama, ketoprak, teater dan sebagainya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo