Rangkaian kunjungan tersebut dilakukan sejak pukul 10.00 WIB dań diakhiri dengan santap siang bersama.
Dalam kunjungan tersebut, Kanjeng Ratu dan seluruh tamu yang notabene para perempuan dipandu oleh tim kurator untuk menikmati narasi perempuan sebagai permaisuri di Keraton Yogyakarta.
Peran permaisuri dari masa pemerintahan Sultan yang berbeda diceritakan dengan apik, diakhiri dengan refleksi permaisuri melalui ketokohan GKR Hemas.
Permaisuri di Keraton Yogyakarta menempati posisi yang begitu penting dalam beragam bidang yang ditempatinya.
Baik mengambil kemampuan dalam keprajuritan perempuan, berkesenian, pengembangan mode dan sastra, serta menjadi diplomat yang ulung di balik kepulangan Sri Sultan Hamengku Buwono II dari Saparua.
Hingga kemudian Permaisuri pada masa modern bukan hanya perihal kedudukan dalam konteks adat, melainkan sosok yang multi-peran di tengah masyarakat.
Mereka mampu menjadi istri, ibu, nenek, hingga senator maupun organisator.
Pada akhir kunjungan khusus ini melibatkan partisipatori pengunjung untuk menjawab pertanyaan ‘Bagaimana perempuan di benakmu?’.
Jawaban itu kemudian diabadikan dalam secarik kertas yang mengelaborasikan sudut pandang setelah menyusuri pameran.
Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun dapat menguak bagaimana narasi perempuan dipikirkan.
Terlebih setelah selesai menyusuri pemaknaan peran perempuan di Keraton Yogyakarta. (ys/vis)
Editor : Bahana.