RADAR JOGJA - Melantunkan salawat dengan musik metal mungkin terdengar aneh. Tapi komunitas Tali Tasbih berhasil menggabungkannya. Bahkan berkolaborasi dengan bentuk kesenian lain seperti teater dan perupa.
Hasilnya diluncurkan "Harmonisasi Shalawat Asghil”, pada Minggu (20/10) di kawasan cagar budaya Tamansari, Jalan. S. Parman No.34 A Tamansari Yogyakarta. "Biar semua kalangan bisa bersalawat," kata penggerak komunitas Tali Tasbih dr Resita Alisjahbana.
Diakui dokter spesialis saraf ini, bukan perkara mudah menggabungkan pemain rebana dengan musik metal. Dia bercerita saat, rekaman meski mimilih musik trash metal, yang dianggap paling soft di antara aliran musik metal lain, masih membuat para pemain rebana kaget. "Karena belum biasa, langsung main gedebak-gedebuk," ungkapnya mengisahkan momen saat perekaman lagu.
Pilihan musik metal sendiri juga didasari anggapan sebagian orang, jika aliran musik ini hanya untuk generasi rusak. Komunitas Tali Tasbih ingin merubah persepsi tersebut dengan memainkan salawat asyghil dengan musik metal. Supaya salawat tak hanya dimainkan dengan itu-itu saja tapi bisa menjangkau semua kalangan. "Dan ternyata bisa kan, juga dikolaborasikan dengan kesenian lain sekaligus," ungkapnya.
Sebagai puteri seorang seniman, Resita mengaku kangen dengan suasana romantisme Jogja masa lalu. Dia mengenang saat Malioboro masih menjadi labolatorium bagi para seniman. Nama-nama seperti Umbu Landu Paranggi hingga Emha Ainun Najib yang besar di Malioboro. "Seperti namanya, Tali Tasbih ini jadi tali untuk mengikat, menjembatani semua seniman berkarya," jelasnya.
Penggerak Tali Tasbih lainnya Dewo PLO menyebut, komunitas seni ini didirikan guna memberi ruang kreatif bagi para seniman dan sanggar-sanggar seni di Indonesia, khususnya bagi individu maupun kelompok seni di Yogyakarta, yang berupaya secara kreatif dan konsisten untuk mengolah, menggubah atau menciptakan karya-karya seni yang bernafaskan nilai-nilai keagamaan Islam.
Baca Juga: Venezia 0-2 Atalanta, Jay Idzes Full Time, La Dea Terlalu TangguBaca Juga: Festival Labuhan di Telaga Moto Indro Kalurahan Girisuko, Panggang, Gunungkidul, Integrasikan dengan Promosi Produk UMKM Desa Preneur
"Baik itu karya seni yang didasarkan pada budaya tradisi maupun modern, lokal maupun global, klasik maupun kontemporer," jelasnya.
Menurut dia, aalah satu bentuk ekspresi seni tradisi yang berkembang di Yogyakarta ialah seni salawat. Dari segi bahasa, salawat berarti doa untuk menggapai kebaikan, keberkahan dan kemuliaan. Dalam konteks keagamaan, shalawat merupakan bentuk pujian, pengakuan dan peneguhan iman kepada Allah dan keagungan Nabi Muhammad.
Maka berkembanglah di Yogyakarta ini bentuk-bentuk seni salawat. Ada salawat jawi, salawat emprak, salawat suluk dan jenis-jenis salawat lainnya. Akan tetapi, nyaris tidak ada kelompok seni yang berupaya menggubah dan mempertemukan seni shalawat dengan seni modern. "Maka itulah, Tali Tasbih mengawali langkahnya melalui “Harmonisasi Shalawat Asghil” dengan istrumentasi musik metal," paparnya .
Menurut entertainment creator Tali Tasbih Kubroglow, proyek ini mendapat inspirasi dari musisi dunia Salman Ahmed, blasteran Maroko-Inggris, yang pernah belajar pada Paul Jones dan John Bonhan (Led Zeppelin) dan kemudian sukses menghubungkan rantai musik modern dengan tradisi kaum sufi. Sehingga ia dikenal di Eropa sebagai pembuka dan pembaharu musik metal yang berjiwa sufistik. Kubroglow berharap, semoga harmonisasi shalawat dengan elemen musik metal ini dapat menjadi bagian dari dinamika seni masa kini dan masa depan Yogyakarta
Editor : Heru Pratomo