Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Kesenian Debus: Atraksi Kekebalan Tubuh yang Sarat Akan Nilai Sejarah dan Magis

Tastabila Maika Warditya • Selasa, 15 Oktober 2024 | 22:05 WIB
Salah satu atraksi debus.
Salah satu atraksi debus.

RADAR JOGJA - Debus adalah sebuah kesenian yang unik dan langka, kesenian ini memperlihatkan kemampuan luar biasa manusia dalam menghadapi benda tajam tanpa terluka.

Pertunjukan kekebalan ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya yang hanya dapat ditemui di beberapa daerah tertentu di Indonesia, seperti Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Aceh.

Kesenian Debus di Jawa Barat muncul seiring dengan datangnya agama Islam di wilayah tersebut.

Awalnya, debus merupakan bagian dari dakwah Islam untuk menarik minat masyarakat agar memeluk agama Islam.

Para guru agama, atau syekh, memainkan peran penting dalam mengembangkan kesenian ini.

Nama debus sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti "senjata tajam", yang mencerminkan inti dari atraksi ini.

Namun, Debus bukan sekadar pertunjukan kekebalan tubuh. Di dalamnya ada juga unsur seni tari, suara, dan kekuatan batin yang dipadu dalam suasana mistis.

Praktisi Debus sering tampil mengenakan pakaian adat tradisional Banten, termasuk jubah putih panjang sebagai bagian dari kostum khas mereka.

Berikut ini beberapa atraksi Debus yang sering dipertontonkan kepada publik:

- Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa menimbulkan luka.
- Mengiris bagian tubuh dengan pisau atau golok tanpa mengeluarkan darah.
- Memakan api atau menyiram tubuh dengan air keras tanpa terluka.
- Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi, atau bagian tubuh lainnya hingga tembus tanpa ada darah yang keluar.
- Membakar tubuh, menggoreng telur di atas kepala, atau berguling di atas serpihan kaca dan beling tanpa rasa sakit.

Menurut sejarah, kesenian Debus memiliki kaitan erat dengan pengamalan Tarikat Rifaiyah yang dibawa ke Indonesia oleh Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke-16.

Dalam tarikat ini, para pengikutnya kerap melukai diri dengan benda tajam ketika mencapai kegembiraan spiritual yang mendalam saat berhadapan dengan Sang Pencipta.

Filosofi yang mereka pegang adalah "Laa haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil adhim", yang berarti bahwa tidak ada daya dan kekuatan selain karena izin Allah.

Oleh karena itu, pisau, golok, atau bahkan peluru, tidak akan melukai mereka yang telah dilindungi oleh kekuatan ilahi.

Kesenian Debus biasanya dipertontonkan sebagai bagian dari upacara adat atau hiburan masyarakat.

Pertunjukan ini umumnya dilakukan di lapangan terbuka, agar para pemain bisa lebih leluasa melakukan atraksi mereka yang menantang maut.

Sebelum pertunjukan dimulai, syekh atau guru besar akan melakukan ritual khusus untuk memohon pertolongan dari Tuhan agar pertunjukan berjalan lancar dan tanpa hambatan.

Debus adalah simbol kekuatan spiritual dan budaya yang masih dipertahankan di Indonesia.

Kesenian ini tidak hanya memperlihatkan kemampuan fisik, tetapi juga keyakinan spiritual yang mendalam, sebuah kombinasi magis antara kekebalan tubuh dan kekuatan batin yang menyatu dalam satu pertunjukan yang menakjubkan.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kesenian #debus #nilai sejarah #kekebalan tubuh #Warisan Budaya #Kesenian Debus