BANTUL - Terdapat satu program menarik dalam perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 yang digelar di Bawuran, Pleret, Bantul. Tema yang diambil yakni Membabar Kyai Kategan dan sholawat Montro dalam program jelajah budaya "Pramuka Milang Carito, Tahta Untuk Rakyat".
Pendekatan yang digunakan dalam program tersebut mengarah pada pertunjukan seni yang melibatkan anggota Gerakan Pramuka Kwartir DIJ. Seniman dan masyarakat sekitar situs-situs berdejarah di Kerta Pleret juga dilibatkan dalam program tersebut.
Koordinator Program jelajah budaya Mathori Brilyan mengatakan tujuan diadakannya program tersebut untuk mendekatkan tradisi jelajah alam pramuka pada tradisi jelajah sejarah khususnya di kerto plered. Harapanya siswa dan masyarakat lebih akrab dengan sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta.
Kerto Pleret merupakan bekas ibu kota kerajaan Mataram Islam abad XVII di era pemerintahan Sultan Agung (1613-1646). Daerah tersebut terletak di Dusun Kerto dan Dusun Kanggotan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul.
"Kerto Pleret diposisikan sebagai salah satu poros atau cikal bakal Keraton Ngayogyakarta," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (11/10/2024).
Selain itu, tahun ini FKY bertema benda yakni umpak buka. Tema tersebut terinspirasi dari temuan di situs plered yang berupa umpak atau pondasi keraton Kerta jaman dahulu.
"Umpak itu komponen membangun sebuah rumah, kami memaknainya juga sebagai landasan paugeran dan tata nilai masyarakat atau sebuah negara berdiri," tuturnya.
Siswa-siswa pramuka di wilayah DIJ dianak untuk mendengarkan kajian tentang Kyai Kategan dan fondasi Mataram Islam yang di isi oleh Yaser Arafat. Setelah itu, mereka diajak untuk berziarah di Makam Kyai Kategan yang terletak di kompleks Masjid Taqqarub, Kanggotan, Pleret.
"Kyai ahmad Kategan adalah dewan wali atau penasihat spiritual Sultan Agung Hanyakrakusuma," jelasnya.
Menurutnya, dengan jelajah sejarah melalui pendekatan pertunjukan, ia bisa menghidupkan situs bersejarah. Artinya situs sejarah memiliki latar belakang kisah ataupun narasi panjang yang hidup.
"Itu kami olah dan kami sampaikan melalui performance lecture dan sholawat Montro asli dari pleret," bebenya.
Sholawat Montro sudah lahir sejak lama, pada tahun 1970an, shlawat tersebut populer di wilayah Pleret, Bantul. Sebagai upaya regenerasi, Sholawat Montro mengembangkan bentuk sajiannya, berupa tarian kreasi yang diharapkan menjadi media edukasi dan hiburan kepada generasi remaja dan masyarakat luas.
"Akan diceritakan situs-situs sejarah di wilayah Kerto dan Pleret, termasuk pengetahuan corak nisan makam pada era Hanyakrakusuman," tegasnya.
Progam tersebut mengalihwahanakan jelajah alam Pramuka, menjadi dramaturgi jelajah budaya. Situs-situs sejarah diantaranya di lakukan di Kedhaton, Kauman, Kerto, Kanggotan, dan Gunung Kelir.
Perancang Program Irfanuddien Ghozali berharap melalui progam ini mampu menyegarkan tradisi jelajah alam Pramuka. Selain itu, kolaborasi dan komunikasi dengan warga sekitar situs melalui juga dapat terjalin.
"Melalui jelajah sejarah ini mampu menggaungkan tata nilai konsep Tahta Untuk Rakyat dengan pendekatan seni pertunjukan," ujarnya. (oso)
Editor : Heru Pratomo