Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menyulam Jejak Sejarah Nusantara, Kisah di Balik Perjalanan Batik Hingga Diakui UNESCO

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 2 Oktober 2024 | 07:47 WIB
Ilustrasi Putra-Putri Bangsa Indonesia Mengenakan Batik (AI/https://firefly.adobe.com/)
Ilustrasi Putra-Putri Bangsa Indonesia Mengenakan Batik (AI/https://firefly.adobe.com/)

RADAR JOGJA - Indonesia memiliki beragam kekayaan budayanya, yang terkenal di seluruh dunia. Salah satunya batik, sebuah warisan budaya yang sangat berharga.

Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. 

Sejarah Panjang Batik 

Jejak batik di Indonesia dapat ditelusuri jauh ke masa kerajaan Majapahit dan Mataram. Seni membuat batik terdiri dari pola-pola yang rumit dan penuh dengan simbolisme. 

Di masa lalu batik sering digunakan oleh kalangan bangsawan, keluarga kerajaan, dan kaum ningrat. 

Batik berkembang pesat di Jawa, khususnya kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Pekalongan. Setiap daerah memiliki ciri khas yang berbeda, Misalnya batik Yogyakarta dan Solo cenderung menggunakan warna gelap. 

Sedangkan batik pesisir seperti Pekalongan menggunakan warna cerah dan motif lebih bebas. Batik juga tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Cirebon, Lasem, Madura, hingga Sumatera, di mana masing-masing daerah menciptakan varian motif yang menggambarkan alam dan kebudayaan lokal.

Perjalanan Menuju Pengakuan Dunia 

Batik memiliki sejarah perjalanan yang Panjang hingga kini batik diakui organisasi dunia UNESCO sebagai warisan budaya pada 2 oktober 2009. UNESCO secara resmi menetapkan batik sebagai "Warisan Budaya Tak Benda" dalam sidang keempat Komite Antar-Pemerintah yang diselenggarakan oleh UNESCO di Abu Dhabi. 

Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemudian menjadikan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009 yang dikeluarkan pada tanggal 17 November 2009.

Sejak saat itu, Indonesia memperingati hari batik nasional setiap 2 Oktober. Setiap kelembagaan, sekolah, dan perusahaan mewajibkan mengguna pakaian batik satu hari dalam sepekan.

Proses pencalonan batik sebagai warisan budaya dunia tak lepas dari upaya pemerintah Indonesia, para pengrajin, dan masyarakat yang terus melestarikan dan mengembangkan batik dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Pengakuan UNESCO bagi Indonesia

Pengakuan UNESCO bukan hanya simbol kebanggaan nasional, tetapi juga mendorong upaya untuk melestarikan batik agar tetap hidup dan relevan di era modern.

Batik tak hanya dilihat sebagai pakaian tradisional, tetapi juga sebagai gaya busana yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Batik kini telah menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia, diperkenalkan ke berbagai negara melalui pameran, peragaan busana, hingga dipakai oleh tokoh-tokoh penting dunia.

Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda adalah bukti betapa berharganya batik dalam sejarah dan budaya Indonesia. 

Dengan adanya Hari Batik Nasional setiap tahunnya, kita sebagai putra-putri bangsa Indonesia untuk terus mengenang dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada di balik setiap motif batik yang kita kenakan.

Serta memastikan bahwa seni batik tetap hidup dan berkembang di masa depan. *****

(Windu Fitri Yansi, Berbagai Sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Diakui #Batik #UNESCO #warisan dunia