MUNGKID – Gelaran Festival Lima Gunung XXIII kali ini nampak berbeda dengan sebelumnya. Sebab, empat fotografer dari berbagai media unjuk gigi dengan menampilkan 70 karya foto fenomenal perjalanan seni budaya Komunitas Lima Gunung selama dua dekade. Itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Foto-foto itu hanya secuil karya dari mereka. Sebetulnya masih banyak lagi. Begitu melihat potret berbagai kesenian, masyarakat dibuat takjub dengan penampilannya. Seolah tengah menghubungkan rentetan cerita yang mungkin saja pernah menjadi bagian dari kenangannya. Sebab masing-masing karya memiliki cerita tersendiri.
Pameran bertajuk Gumregah Bareng, Gayeng, Seneng itu dihelat mulai 25-29 September di Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan. Adapun empat fotografer itu antara lain Nugroho DS, Anis Efizudin, Ferganata Indra Riatmoko, dan Gholib. Mereka menampilkan foto terbaiknya dan mejeng di perhelatan Festival Lima Gunung XXIII. Mereka tergabung dalam komuntas Rencang Lima Gunung Ring Setengah.
Keunikan dari pameran ini terletak pada lokasi dan dekorasinya. Tidak seperti pameran foto yang umumnya, pameran ini justru diselenggarakan di sebuah ruangan bekas gudang gentng berdinding anyaman bambu berukuran 7 x 5 meter. Ruangan tersebut dihias dengan ornamen alami. Seperti pohon cabai kering, kulit jagung, dan jerami yang dibentuk menjadi karya seni yang menyatu dengan alam sekitar.
Seorang fotografer Anis Efizudin mengaku telah mendampingi komunitas seniman petani selama lebih dari 20 tahun. Pameran ini menjadi satu bentuk apresiasi mereka kepada masyarakat dan para seniman yang telah berkarya secara mandiri selama lebih dari dua dekade.
Dia menyebut, pameran ini tidak hanya sekadar untuk memamerkan karya mereka. "Tetapi juga sebagai penghormatan kepada para seniman dan pegiat seni yang telah dengan konsisten berkesenian tanpa bantuan sponsor. Ini adalah kenangan visual yang kami persembahkan untuk mereka," ungkap Anis, Kamis (26/9).
Anis meniti satu per satu karyanya. Total ada 10 foto yang diambil sejak 2006 hingga 2023. Ada satu foto yang membuatnya terharu, yakni penampilan seniman yang mengenakan masker. Foto tersebut memperlihatkan para seniman yang berusaha tampil maksimal, meski tanpa penonton. Karena saat itu, Indonesia tengah dilanda Covid-19 pada 2020 lalu.
Para seniman, kata dia, ingin tetap eksis. Bahkan, mereka tetap mengadakannya secara daring. Dia mengatakan, hanya ada sejumlah fotografer yang diberitahu soal gelaran tersebut dan tidak diperkenankan mengunggah foto itu saat siang hari. Karena berpotensi mendatangkan penonton.
Baca Juga: Selesaikan Masalah Sosial, Dinsosdaldukkb Purworejo Andalkan Lima Inovasi Layanan
"Ini menjadi previllage bagi kami. Karena memiliki hak istimewa untuk bisa mengabadikan momentum tersebut. Istilahnya bersifat rahasia dan eksklusif" lontarnya.
Sama halnya dengan Anis, foto-foto yang dipamerkan Nugroho DS merupakan dokumentasi kegiatan Komunitas Lima Gunung dari 2006 hingga 2023. Dia telah mendokumentasikan kegiatan-kegiatan seni di lima gunung, yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. "Setiap foto ini menangkap semangat dan dedikasi para seniman gunung yang terus berkarya secara mandiri," katanya.
Selain itu, Ferganata Indra Riatmoko juga memamerkan foto-fotonya menggunakan media mug atau cangkir. Dia berharap, pameran ini dapat memberikan perspektif baru kepada pengunjung Festival Lima Gunung.
Dia ingin pengunjung tidak hanya menikmati pentas seni, tetapi juga melihat pentingnya dokumentasi visual. "Ini adalah saksi bisu perjalanan seni dan budaya yang terus berkembang di tengah masyarakat kita," jelasnya.
Baca Juga: Pasar Terban Kerap Jadi Lokasi Pembuangan Sampah Liar, Ini Langkah DLH Kota Jogja
Ketua Komunitas Lima Gunung Sujono Keron menambahkan, gelaran seni budaya ini memang rutin dilakanakan saban tahun. Namun, kali ini ada yang berbeda, yaitu pameran foto sebagai pelengkap Festival Lima Gunung XXIII. "Harapannya masyarakat tidak hanya menikmati tampilan seni budayanya, tapi juga pameran fotonya," tuturnya.
Pameran ini praktis dapat menambah dimensi lain dalam Festival Lima Gunung XXIII, yang selama ini dikenal dengan pementasan seni tradisionalnya. Pengunjung festival pun mendapat hiburan visual yang berharga, sekaligus edukasi tentang betapa pentingnya menjaga dan mendokumentasikan sejarah perjalanan seni budaya masyarakat pegunungan. (aya)
Editor : Heru Pratomo