RADAR JOGJA - Tradisi Rasulan atau bersih desa merupakan salah satu tradisi masyarakat Gunungkidul yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Rasulan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah ini diadakan satu tahun sekali setelah musim panen.
Tradisi ini selaras dengan mayoritas penduduk Gunungkidul yang berprofesi sebagai petani. Namun, seiring perkembangan zaman, Rasulan kini dirayakan oleh berbagai kalangan masyarakat dengan beragam profesi.
Baca Juga: Tak Disadari Konsumsi 5 Makanan Ini Dapat Memicu Bau Badan Tidak Sedap
Tiap daerah, tradisi ini berbeda-beda waktu pelaksanaanya, sesuai dengan kesepakatan daerah masing-masing.
Adapun prosesi rasulan diawali dengan warga desa setempat bergotong royong, membersihkan lingkungan sekitar.
Kemudian, seminggu sebelum acara inti berlangsung, warga setempat melakukan tradisi nyadran. Di mana mereka membawa nasi dan ingkung (ayam utuh) serta mendoakan para leluhur.
Setelah berdoa masyarakat sekitar mulai membagikan bungkusan yang berisi nasi ingkung, dan menyantap bersama-sama menggunakan alas daun pisang.
Puncak acara rasulan diselenggarakan dengan mengadakan kenduri. Kenduri merupakan acara doa bersama yang diadakan di balai desa dan dilanjut membagikan ingkung.
Pada acara kenduri biasanya dihadiri salah satu perwakilan tiap keluarga, dan biasanya merupakan kepala keluarga.
Baca Juga: Kolaborasi Spektakuler The Adams Dan FSTVLST Siap Guncang Yogyakarta 14 Desember
Setelah kenduri selesai, acara dilanjut dengan menampilkan kesenian daerah seperti kirab, jatilan, doger, hingga reog ponorogo. Kemudian di malam hari acara ini ditutup dengan kesenian wayang kulit. (Arfi Ninda Anggraeni)