RADAR JOGJA - Upacara adat wiwitan adalah salah satu tradisi leluhur masyarakat Jawa yang masih ada hingga saat ini.
Upacara ini dilaksanakan untuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Wiwitan berasal dari kata "wiwit" yang artinya awal, sehingga dapat dikatakan bahwa wiwitan yaitu awal panen padi atau permulaan panen padi.
Makna dan tujuan upacara wiwitan
Bukan hanya sekadar upacara perayaan, namun juga memiliki makna yang mendalam. Berikut makna dan tujuan wiwitan:
1. Ungkapan rasa syukur: Upacara ini dilaksanakan untuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas pencapaian dan kelancaran panen tersebut.
2. Penghormatan kepada alam: Masyarakat Jawa memiliki kepercayaan terhadap alam. Mereka percaya bahwa alam memiliki kekuatan gaib dan mereka menunjukan bukti penghormatan kepada alam sebagai sumber kehidupan.
3. Doa untuk kemakmuran: Masyarakat berdoa supaya hasil panen dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua masyarakat.
4. Pelestarian budaya: Upacara ini juga sebagai pelestarian peninggalan leluhur dan menjaga nilai-nilai budaya leluhur.
Prosesi upacara wiwitan
Tahap pertama adalah penentuan waktu, mereka melakukan upacara ini dengan siklus pertanian dan kalender Jawa. Setelah itu adanya persiapan seperti sesaji, hasil bumi, bunga, dan makanan tradisional.
Setelah persiapan, diadakan doa bersama yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME dan alam yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.
Jika doa sudah selesai, diadakan wiwitan yaitu memanen padi pertama kalinya dengan tokoh agama atau sesepuh desa tersebut.
Pemotongan tumbuhan atau panen telah selesai maka diadakan kenduri yaitu mengundang orang-orang dan berdoa atas ucapan syukur secara bersama-sama di tempat itu pula.
Nilai yang ada dalam acara wiwitan ini yaitu adanya gotong royong, kerukunan, kesederhanaan, dan pelestarian lingkungan.
Dengan menjaga upacara wiwitan kita mampu melestarikan nilai budaya dan leluhur kita. (Julia Putri Nur Isma)