Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Pegangan Hidup, Ini 5 Filosofi Kehidupan Masyarakat Jawa Penting Diterapkan Sehari-hari

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 29 Agustus 2024 | 23:05 WIB
Poster animasi overlord: Holy Kingdom.
Poster animasi overlord: Holy Kingdom.

RADAR JOGJA - Masyarakat Jawa sejak lama sudah terkenal dengan budaya yang mengangkat kedalaman filosofi hidup.

Hal ini warisan yang diturunkan berturut-turut oleh nenek moyang terdahulu.

Filosofi itu tidak cuma dijadikan panduan dalam kehidupan saja, namun juga menjadi arah pembentukan Identitas karakter serta jati diri masyarakat Jawa.

Berikut 5 filosofi yang sering dijadikan pegangan teguh bagi kehidupan masyarakat Jawa:

1. Urip Iku Urup


Filosofi itu berarti “Hidup Itu Menyala”.

Masyarakat Jawa yakin bahwa ada kehidupan yang lebih baik bagi mereka yaitu ketika mereka memiliki kebermanfaatan untuk orang lain.


Ibarat menyalakan api atau lampu di dalam kegelapan, yang akan memberi penerangan pada sekitarnya.

Sama dengan kehidupan , Masyarakat Jawa yakin hidup bermakna ketika mereka dapat memberi “Nyala atau penerangan” manfaat bagi lingkungan sekitar.


Dalam prinsipnya ajaran tersebut menitikberatkan pentingnya berbagi antar sesama, saling membantu, serta memberi manfaat kepada lingkungannya.


Contoh saja, Dikampung-kampung terkhusus daerah bermasyarakat jawa.

Sering kali ketika ada tetangga yang kesulitan mereka bahu membahu saling membantu, baik ketika tetangga sakit keras hingga terkena musibah.

2. Nrimo Ing Pandum


Filosofi itu berarti “Menerima”. Masyarakat Jawa yakin dengan Menerima apa yang mereka miliki baik atau buruk, mereka akan mendapatkan ketentraman jiwa dan hidup.

Nrimo Ing Pandum dapat dimaknai ketika mereka ikhlas atau puas menerima apapun yang mereka dapatkan, baik hasil sedikit atau banyak mereka akan tetap merasa bersyukur dan cukup atas apa yang diperoleh.

Contoh saja, Pada Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah ini kental akan budaya dan masyarakatnya yang memegang teguh budaya Jawa, meskipun dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) masyarakat Jogja dilabeli sebagai provinsi miskin di Pulau Jawa.

Namun sejatinya berdasarkan data BPS pada tahun 2022, menyebutkan pula masyarakat Jogja mendapat predikat sebagai provinsi dengan tingkat kesejahteraan tertinggi di Indonesia.


Hal ini dapat mengindikasikan bahwa materi tidak selalu menjadi tolak ukur dalam kesejahteraan suatu masyarakat terkhusus Masyarakat Jawa.

3. Tepa Slira


Filosofi ini bisa berarti “Mendengar dan menempatkan” Masyarakat Jawa bersikap bahwa mereka harus ikut mengdengarkan dan merasakan apa yang orang lain rasakan sebelum bertindak.


Ini dapat diibaratkan kemampuan seseorang untuk memahami dan menjaga perasaan orang lain.


Contoh saja, pada Masyarakat dilingkungan Jawa mereka akan lebih sensitif ketika ada tetangga nya yang sedang terkena musibah, seperti meninggalnya keluarga tetangga.

Mereka akan ikut merasa sedih dan saling tenggang rasa antar sesama dan menjaga lisan mereka untuk membuat tetangga nya tidak terlalu sedih.

4. Mikul Dhuwur Mendhem Jero


Filosofi ini cenderung tentang penghormatan kepada orang tua dan leluhur.


Filosofi Mikul Dhuwur Mendhem Jero mengajarkan bahwa seseorang haruslah menjunjung kehormatan dan jasa para pendahulu mereka.

Kebaikan mereka wajib selalu diingat, serta kesalahan mereka patut dimaafkan dan tidak boleh diungkit kembali.


Ibarat menghargai jasa dan kontribusi yang telah dilakukan orang tua dan para pahlawan bangsa ini, maka mereka harus lebih fokus terhadap kebaikannya bukan pada kesalahan mereka.

Contohnya, ketika seorang anak yang patutnya mematuhi dan menghormati orang tua nya terlepas memiliki kesalahan, sang anak harus menutup kesalahan tersebut karena jasa orang tua cenderung lebih besar dari itu semua.

5. Alon - Alon Waton Kelakon


Berfilosofi “Pelan-pelan asal tercapai” dapat disimpulkan filosofi itu memberi pengajaran kesabaran akan menggapai tujuan.

Umumnya masyarakat Jawa meyakini kesuksesan tidak hanya dapat diraih dengan mendadak dan tergesa-gesa, namun masih dengan melangkah perlahan yang pasti serta penuh perhitungan.

Dengan memegang sikap itu, masyarakat jawa akan lebih dapat menghadapi persoalan dengan lebih tenang dan pantang menyerah.

Sudah banyak contoh pantang menyerah masyarakat jawa ini, salah satunya adalah pedagang yang tidak mendapat keuntungan seperti biasanya.

Mereka akan mencari cara lain dengan penuh perhitungan baru untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Filosofi diatas sering menjadi pegangan kehidupan masyarakat jawa, memberikan pendalaman nilai dan panduan yang bijak dalam kehidupannya.

Bagi mereka filosofi tersebut selainmenjadi tradisi, namun juga menjadikan kehidupan menjadi lebih bermakna. (Muhammad Affan Himawan)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#filosofi #Budaya #Kehidupan #masyarakat jawa #Pegangan Hidup