RADAR JOGJA - Upacara adat Jawa merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat yang kaya akan nilai-nilai tradisional dan spiritual.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa upacara adat Jawa mulai terlupakan meskipun masih memegang nilai-nilai yang sangat berarti bagi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Tedak Siten
Tedak Siten merupakan upacara adat yang dilakukan untuk bayi yang mulai bisa berjalan.
Upacara ini dilangsungkan untuk menyatakan rasa terima kasih orang tua terhadap kelahiran bayi mereka yang sehat dan sudah mulai menjelajahi dunia sekitarnya.
2. Siraman
Siraman adalah upacara mandi yang dilakukan menjelang pernikahan untuk membersihkan dan menyucikan calon pengantin dari segala hal yang buruk sebelum memulai hidup baru.
3. Midodareni
Midodareni adalah upacara adat Jawa yang dilakukan sehari sebelum pernikahan.
Upacara ini bertujuan untuk memperkenalkan kedua mempelai beserta keluarga besar, serta sebagai wujud doa dan harapan baik untuk kebahagiaan pernikahan yang akan datang.
4. Nyadran
Nyadran adalah upacara tradisional Jawa yang dilakukan untuk menghormati leluhur yang telah meninggal.
Tradisi ini umumnya dilakukan oleh penduduk jawa dengan cara membersihkan makam secara bersama-sama, khususnya pada saat bulan Ruwah.
5. Kenduren
Kenduren atau sering disebut “Selametan” adalah upacara makan bersama yang dilakukan untuk merayakan berbagai momen penting seperti kelahiran, pernikahan, atau syukuran atas hasil panen.
Kenduren tidak hanya sekadar makan bersama, tetapi juga sarana untuk mempererat ikatan sosial dalam masyarakat Jawa.
6. Larung Sesaji
Larung Sesaji merupakan upacara adat yang dilakukan sebagai ungkapan syukur kepada leluhur atau roh leluhur.
Biasanya, larung sesaji dilakukan dengan melempar sesaji berupa makanan atau bunga ke laut, sungai, atau tempat-tempat suci lainnya sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah.
7. Panggih
Panggih adalah upacara pertemuan resmi kedua calon pengantin beserta keluarga mereka dalam rangkaian pernikahan adat Jawa.
Panggih melibatkan prosesi saling memperkenalkan dan meminta restu dari kedua belah pihak, serta diakhiri dengan acara pemberian cincin kepada calon pengantin wanita.
8. Mitoni
Mitoni adalah upacara tradisional Jawa yang dilakukan untuk merayakan usia kehamilan tujuh bulan.
Upacara ini bertujuan untuk memohon perlindungan dan keselamatan bagi ibu hamil serta janin yang dikandungnya, serta sebagai wujud syukur atas kehamilan yang berjalan lancar.
Upacara adat Jawa bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan ekspresi dari kearifan lokal dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Jawa.
Dengan melestarikan dan menghargai tradisi-tradisi ini, generasi muda diajarkan untuk menghormati warisan budaya yang kaya dari nenek moyang mereka. (Hasna Rafidah)
Editor : Meitika Candra Lantiva