Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wadahi 30 Kelompok Seni Melalui Gelaran Mahakarya Sumbing di Magelang

Naila Nihayah • Minggu, 7 Juli 2024 | 23:38 WIB

 

LUWES: Para penari itu tampak atraktif dan bersemangat untuk ikut serta dalam kegiatan Mahakarya Sumbing di halaman parkir Nepal van Java, Sabtu (6/7/2024).
LUWES: Para penari itu tampak atraktif dan bersemangat untuk ikut serta dalam kegiatan Mahakarya Sumbing di halaman parkir Nepal van Java, Sabtu (6/7/2024).
MUNGKID - Sebanyak 30 kelompok seni dari Kecamatan Kajoran dan Kaliangkrik unjuk gigi memamerkan aksinya melalui Mahakarya Sumbing di halaman parkir Nepal van Java, 6-7 Juli 2024.

Gelaran budaya bertajuk 3rd Sumbing Art, Ritual, dan Culture Performance ini sekaligus menjadi upaya untuk meramaikan sektor pariwisata di lereng Gunung Sumbing.

Gelaran budaya ini diprakarsai oleh Yayasan Seni, Budaya, dan Pariwisata Phalita Javanesia sebagai satu upaya konservasi budaya.

Karena masih banyak kelompok seni, terutama di kawasan Nepal van Java dan Negeri Sayur Sukomakmur yang tidak memiliki ruang publik untuk menampilkan keseniannya.

Penanggung jawab Mahakarya Sumbing Sigit Ismaryanto menyebut, kehadiran 3rd Sumbing Art, Ritual, and Culture Performance menjadi event budaya yang dinantikan oleh masyarakat.

"Tidak hanya sebagai upaya inventarisasi dan revitalisasi seni tradisi, tapi juga memberi multiplier effect bagi masyarakat," ujarnya, Sabtu (6/7/2024).

Sebelum menyajikan penampilan dari 30 kelompok seni, ada beberapa langkah yang dilakukan.

Mulai dari koordinasi dan inventarisasi seni budaya tradisi.

Yakni dengan menggali, mengumpulkan, mencatat, serta mendata beberapa seni tradisi yang ada di lereng Gunung Sumbing.

Baik yang masih aktif maupun yang telah hilang atau ditinggalkan.

Selanjutnya, kata Sigit, ada pendampingan untuk merevitalisasi seni tradisi di lereng Gunung Sumbing.

Dengan memberikan makna baru terhadap seni tradisi tanpa mengubah bentuk atau substansinya.

"Kami juga membina kelompok seni tradisi untuk berinovasi. Yang semula difungsikan sebagai kebutuhan ritual, menjadi atraksi wisata budaya," katanya.

Dia menuturkan, gelaran ini menjadi upaya untuk nguri-uri budaya sekaligus dikaitkan dengan dampak perekonomian di lereng Gunung Sumbing.

Sebab, kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah pelaku UMKM di kawasan Nepal van Java.

Adapun pertunjukan yang ditampilkan berupa pentas kesenian tradisional, pagelaran wayang kulit, wayang golek, dan wayang kampung sebelah.

Kemudian, ada senam tradisional, fashion show bertajuk 'Gadis Tani Sumbing', pesta lampion, pawai jip wisata, gerakan menanam kopi, serta pameran produk UMKM.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Mulyanto menambahkan, Mahakarya Sumbing menjadi satu agenda yang strategis untuk mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif. Terutama di kawasan Nepal van Java dan Negeri Sayur Sukomakmur.

"Ini (Mahakarya Sumbing, Red) menjadi pendorong untuk memajukan seni dan budaya sebagai wahana atraksi. Serta mendorong masyarakat, pelaku seni, dan budaya agar tetap melestarikan warisan nenek moyangnya," bebernya. 

Editor : Bahana.
#Kajoran #Magelang #Sumbing