RADAR JOGJA - Yogyakarta, sebagai kota budaya kaya dengan tradisi dan ritual.
Salah satunya perhelatan Mubeng Benteng pada 7 Juli 2024.
Tradisi ini, yang juga dikenal sebagai Tapa Bisu Lampah Mubeng Benteng.
Merupakan bagian integral dari perayaan malam 1 Suro, yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa dan Hijriah.
Dalam suasana yang penuh dengan keheningan dan khidmat, ribuan peserta akan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta, memperkuat nilai-nilai introspeksi dan spiritualitas.
Sejarah dan Makna Mubeng Benteng
Mubeng Benteng telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Yogyakarta selama berabad-abad.
Tradisi ini bermula dari kebiasaan Sultan dan para abdi dalem yang melakukan perjalanan malam untuk berdoa dan merenung, memohon berkat dan perlindungan bagi Keraton serta seluruh warganya di tahun yang baru.
Para peserta, yang terdiri dari abdi dalem dan masyarakat umum, berjalan dalam diam, tanpa alas kaki, dan tanpa berbicara, sebagai simbol perenungan mendalam dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Prosesi Mubeng Benteng
Ritual Mubeng Benteng dimulai pada tengah malam, ketika lonceng Kyai Brajanala di Plataran Keben dibunyikan sebanyak 12 kali.
Para abdi dalem berbaris di depan, mengenakan pakaian adat Jawa tanpa keris dan alas kaki, membawa bendera Indonesia dan panji-panji Keraton Yogyakarta.
Di belakang mereka, ribuan warga mengikuti dalam keheningan.
Perjalanan mengelilingi benteng sejauh sekitar lima kilometer ini dilakukan untuk merenungkan perbuatan di tahun sebelumnya dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.
Manfaat Spiritual dan Budaya
Mengikuti Mubeng Benteng bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga sebuah pengalaman spiritual yang mendalam.
Keheningan dan kesederhanaan prosesi ini memberikan ruang bagi peserta untuk introspeksi, merenungi kesalahan, dan memperkuat tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun mendatang.
Selain itu, tradisi ini juga mempererat hubungan antara Keraton Yogyakarta dan masyarakatnya, menunjukkan kekompakan dan kesatuan dalam menjalani kehidupan berbudaya dan spiritual.
Menghidupkan Tradisi di Era Modern
Di era modern ini, tradisi Mubeng Benteng tetap relevan dan penting sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Partisipasi masyarakat dalam prosesi ini menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan kebudayaan yang telah ada sejak lama.
Selain itu, tradisi ini juga menarik minat wisatawan yang ingin merasakan langsung suasana magis dan spiritual di Yogyakarta.
Editor : Meitika Candra Lantiva