RADAR JOGJA - Kalian pernah dengar kertas daluang atau dluwang? Kalau belum, berarti kalian harus mengenal salah satu produk kertas khas Indonesia yang dahulu banyak digunakan untuk menulis naskah-naskah kuno ini.
Kertas daluang merupakan kertas yang berasal dari kulit pohon dengan nama latin Broussonetia papyrifera vent atau dalam bahasa Inggris disebut dengan nama paper mulberry akan tetapi, dalam bahasa Jawa lebih dikenal dengan sebutan pohon glugu.
Pada zaman pra-Islam kertas daluang terkenal di berbagai daerah nusantara sebagai produk media tulis yang digunakan untuk menulis berbagai naskah kuno.
Selain sebagai bahan untuk media tulis, daluang juga digunakan sebagai bahan pakaian para pertapa dan sebagai kelengkapan upacara keagamaan.
Seiring perkembangan zaman kertas daluang hampir punah, tepatnya pada abad 19 ketika kertas yang berasal eropa mendominasi pasar global.
Juga, karena proses pembuatan kertas yang memakan waktu yang lama serta metode pembuatannya yang rumit mengakibatkan kehadiran kertas daluang hampir punah.
Pemanfaatan daluang di Yogyakarta sendiri pada zaman dahulu dapat dilihat pada koleksi naskah-naskah kuno di museum Sonobudoyo dan keberadaan dari koleksi wayang Beber di dusun Gelaran, desa Bejiharjo, kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Saat ini, pemanfaatan kertas daluang dapat dikatakan tidak terlalu ramai digunakan akan tetapi, bagi sebagian orang mereka memanfaatkan kertas daluang sebagai media lukis karena bahannya yang tahan lama.
Juga, kertas daluang digunakan beberapa orang atau komunitas pelestari kertas daluang sebagai media tulis mereka. (Sergio Jubilleum Asqueli)
Editor : Meitika Candra Lantiva