Lagu ini bisa menjadi salah satu cara untuk edukasi seksual sejak dini, karena lagu ini mengajarkan anak tentang bagian – bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain.
Menurut Afrilin Dewi Purnama, konselor di Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Wonogiri, lagu ini tepat diajarkan kepada anak TK dan SD.
Makna lagu ini harus terus diingat hingga dewasa untuk mengantisipasi pelecehan seksual.
Orang tua dan guru perlu mengingatkan makna lagu ini kepada anak yang mulai beranjak remaja.
Orang tua juga perlu memahami batasan sentuhan yang boleh dilakukan kepada anak, seperti saat memeluk anak perempuan. Hal ini juga berlaku di luar rumah.
Orang tua harus memperkuat edukasi tentang area tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh.
Seiring bertambahnya usia anak, edukasi terkait kontak fisik dengan anak beda jenis kelamin juga perlu diberikan.
Dengan memperkuat makna lagu "Ku Jaga Diriku" dan edukasi seksual yang berkelanjutan, potensi pelecehan seksual dapat diminimalkan.
Edukasi ini tidak hanya sebatas lagu, tetapi perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Dewi, edukasi terkait sentuhan boleh dan tidak boleh dapat dimulai sejak PAUD dan TK.
Orang tua perlu memberikan pemahaman yang jelas tentang area tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh.
Seiring pertumbuhan anak, edukasi ini perlu disesuaikan dengan usia dan perkembangannya.
Orang tua juga perlu menjadi contoh yang baik bagi anak dalam menjaga batasan fisik.
Dengan edukasi seksual yang tepat dan berkelanjutan sejak dini, diharapkan anak-anak dapat terhindar dari pelecehan seksual dan tumbuh menjadi individu yang menghargai batasan fisik orang lain.
Editor : Bahana.