RADAR JOGJA – Dakon tak sekadar permainan tradisional. Tapi juga memiliki manfaat bagi pemainnya. Di antaranya memperkuat relasi sosial. Berbeda dengan saat bermain gadget.
“Permainan tradisional itu untuk psikomotorik kasar dan halus serta hubungan sosial dengan temannya. Kalau permaian gadget sekarang itu cenderung lebih individual,” ujar Ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja Ki Priyo Dwiarso ditemui di sela lomba dakon sebagai bagian dari perayaan Warisan Budaya Takbenda 2024 di Ndalem Pakuningratan, Rabu (29/5).
“Permainan daring dan langsung itu sangat berbeda. Secara psikologis kita bisa membaca wajah dan bisa akrab seperti zaman dahulu,” tuturnya.
Priyo menilai antusiasme peserta dalam kompetisi ini sangat bagus. Menurutnya, beberapa anak sangat cepat memahami strategi permainan. Ia melihat ada peserta dari taman kanak-kanak bisa mengalahkan peserta dari sekolah dasar.
“Jangan sampai ilang. Tradisi semacam ini punya local wisdom yang sangat luhur untuk membentuk budi pekerti,” harap Priyo.
Kepala TK Negeri 2 Kapas Kitri Sawitri menilai, kegiatan semacam ini penting lantaran sekolahnya berbasis budaya. Program-program untuk mengenalkan budaya pada para murid di sekolah kerap diadakan. Mulai dari tarian, permainan, hingga pembuatan batik.
“Jadi benar-benar menanamkan nilai tradisional pada anak. Gurunya juga semangat untuk melatih ketika menghadapi lomba,” jelas Kitri.
Salah satu peserta, Queena Erlina mengaku senang bisa mengikuti kompetisi dakon ini. Siswa dari SD Negeri Timuran ini telah pernah mengikuti lomba sejenis sebelumnya, bahkan memperoleh juara.
Queena juga mengaku sering bermain dakon di rumahnya. Ke depan, ia ingin mengikuti kompetisi-kompetisi serupa dan berharap bisa memperoleh juara. (cr1/pra)
Editor : Satria Pradika