RADAR JOGJA - Magelang memiliki kesenian tari khas yang unik, yakni Tari Topeng Ireng.
Tari Topeng Ireng menjadi kesenian yang paling digemari oleh masyarakat Magelang.
Kesenian Topeng Ireng ada sejak tahun 1930-an dari desa Tuk Songo Borobudur, Magelang.
Kesenian tersebut dibuat dengan tujuan sebagai sarana dakwan.
Di zaman penjajahan Belanda, pemerintah pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat untuk upaya kamuflase.
Tarian itu diiringi dengan musik sederhana dan tembang Jawa yang mengandung berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan ajaran agama Islam.
Kostum dan penampilan yang menarik menjadi keindahan yang menyatu.
Konon, tarian topeng ireng menggambarkan ketangkasan prajurit dalam melawan legiun Belanda.
Topeng Ireng biasanya dilaksanakan ketika sedang ada acara tertentu semisal upacara bersih desa, kirab budaya, festival rakyat, maupun acara-acara seni tradisi dan budaya lainnya.
Dalam melakukan tarian Topeng Ireng, para penari melakukan proses jamasan.
Salah satu tokoh penari Topeng Ireng, Sumarjono menjelaskan tujuan dari prosesi jamasan atau mensucikan adalah agar para penari yang merupakan generasi penerus seni ini lebih percaya diri dan senantiasa menjaga, melestarikan seni tradional tersebut.
"Diharapkan dengan melalui ritual jamasan ini, dapat memberikan energi positif terhadap para generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai setiap kesenian tradisional yang ada di masyarakat, tak terkecuali tari Topeng Ireng," jelas Sumarjono dikutip dari Soclyfe.com.
Masyarakat berkumpul di titik lapangan desa sambil menata setiap keperluan ritual, seperti tumpeng ingkung, gunungan hasil bumi, hingga alat-alat gamelan dan bedug yang biasa digunakan dalam pentas.
Dengan irama bedug, mereka berarak berjalan menuju Sendang Pundong yang berjarak satu kilometer dari perkampungan dusun sambil mengusung gunungan dan aneka alat tetabuhan.
Dipimpin tokoh masyarakat, di Sendang Pundong para anggota baru komunitas Topeng Ireng menjalani prosesi jamasan yakni menerima taburan bunga bersama air ke wajah yang sudah diberi doa sakral.
Editor : Meitika Candra Lantiva