RADAR JOGJA - Pelestarian seni tradisi bagi kalangan muda turut didukung oleh peran pemerintah. Hal ini diungkapkan oleh Praktisi Seni Tamansiswa Jogjakarta Tri Yuliyanti Setyasari.
Melalui dinas kebudayaan provinsi maupun kabupaten/kota, kegiatan kethoprak, festival sendratari, teater, festival dalang, hingga festival karawitan masif dilakukan. Kegiatannya, tidak hanya menggandeng para kalangan tua. Namun juga generasi muda yang usianya tidak lebih dari 30 tahun.
"Artinya generasi milenial dan gen Z tersebut diberi kesempatan untuk ikut melestarikan seni tradisi sekaligus berkesempatan mengembangkan potensi diri," bebernya.
Bahkan ada juga festival seni tradisi khusus untuk anak. Misalnya Festival Dolanan Anak, Festival Langen Carita, hingga Festival Langen Sekar yang materinya terdiri dari tembang Jawa, tari, dan karawitan.
"Banyak bermunculan festival-festival kesenian tradisional kerakyatan. Misalnya jathilan, angguk, badui yang kebanyakan diikuti oleh gen Z," ujarnya kemarin (23/2).
Agar eksistensi seni tradisi terjaga dengan baik, masyarakat perlu turut berperan dalam menggali dan merumuskan nilai-nilai luhur bangsa. "Supaya dapat diwariskan kepada anak-cucu kita menjadi sebuah identitas karakter bangsa," pintanya.
Sebab menurutnya, budaya kearifan lokal nusantara lahir dari seni tradisi. Sementara seni modern dan kontemporer adalah pengembangan dari seni-seni tradisi. "Untuk itu, seni tradisi menjadi dasar pijakan kuat yang harus di-uri-uri," tegas Pamong Tamansiswa Ibu Pawiyatan ini.
Dalam hal ini, generasi milenial memiliki peran penting dalam melestarikan seni tradisi. Bisa dilakukan melalui pelatihan-pelatihan seni tradisi. "Misalnya seni tari, karawitan, dan lainnya di sekolah, hingga sanggar," jelasnya. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita